Better

Di hadapkan dengan kesibukan dan banyaknya tumpukan berkas yang harus ditandatangani, membuat Haven Algara memijat pelan keningnya. Pria berumur 34 tahun itu merupakan seorang CEO dari perusahaan besar bernama Gara Crop yang bergerak di bidang elektronik.

Menjadi seseorang dengan jabatan yang tinggi di perusahaan tidak membuat Haven berleha-leha dan menikmati gaji yang cukup besar, justru ia kerap sekali disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Mempunyai tanggung jawab yang besar membuat dirinya bekerja ekstra keras sampai sering kali ia melewatkan waktu makannya.

Di pertengahan hari Haven tengah duduk di bangku kerjanya dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Jari yang tengah mengetik pada keyboard laptop itu terhenti ketika mendengar ketukan pintu.

Setelah diberi ijin untuk masuk oleh Haven, orang yang mengetuk pintu itupun memasuki ruangan pria gemini dengan langkah kecilnya. Ketika melihat orang yang tengah berjalan ke arahnya, Haven memundurkan kursinya agar menjauh sedikit dari meja kerjanya. Ia beralih melebarkan tangannya dan dengan sigap orang itu memeluknya.

“Ada apa, sayang? Udah makan belum?” Haven menepuk-nepuk punggung orang itu.

“Udah ayah, Abel udah makan. Ayah udah?”

Yazrin Nabela Algara atau biasa dipanggil dengan Abel, perempuan yang hendak menginjak usia delapan belas tahun itu merupakan anak satu-satunya dan juga anak kesayangan Haven Algara. Memiliki paras cantik dengan rambut hitam panjang yang selalu terurai dan juga pipi berisi yang terlihat menggemaskan, tak membuat dirinya menjadi orang yang sombong. Abel dikenal sebagai anak yang ramah dan juga sopan. Bahkan ketika berkunjung ke kantor ayahnya, ia suka menyapa para pegawai yang ada di sana meskipun ayahnya mempunyai jabatan tertinggi sekalipun.

“Belum. Nanti kalau udah laper ayah makan. Mau selesaiin dua berkas lagi.”

“Ayah ini suka banget ngingetin aku buat makan, sedangkan ayah sendiri suka ngelewatin waktu makan.”

Apa yang dikatakan oleh Abel benar adanya. Haven sering sekali mengingatkan putri kesayangannya untuk tidak melewatkan waktu makan, namun di tempat kerja ia malah sering mengabaikan waktu makannya sendiri.

“Ayah sibuk Abel. Banyak kerjaan yang belum terselesaikan. Urusan makan yah belakangan, yang penting makan kamu teratur.”

“Gak bisa gitu dong, yah. Kerjaan bisa kapan aja, ayah punya asisten punya sekretaris yang bisa kerjain kerjaan ayah. Kesehatan ayah yang harus diutamakan bukan kerjaan.” Abel hendak melepaskan pelukannya sebelum akhirnya kembali ditarik oleh ayahnya.

“Iya iya bawel ya Abel-nya ayah ini. Udah diem, ayah masih mau peluk Abel.”

“Ayah, Abel mau ngomong sesuatu sama ayah. Tapi ayah janji dulu jangan marah.”

“Iya cantiknya ayah. Mau ngomong apa hmm?”

“Mobil ayah ilang.”

“Apa?”

Haven melepaskan pelukannya pada Abel. Anaknya itu memutuskan untuk kembali berdiri dan sedikit menjauh darinya.

“Tuh kan ayah marah.” Abel menunduk dan semakin berjalan ke belakang.

“Enggak, sayang. Sini, ayah gak marah kok.” Haven menarik pelan tangan anaknya hingga kembali mendekat.

Ia pegang kedua tangan anaknya itu, “kenapa bisa ilang mobilnya?” Tanyanya lembut.

“Kemarin lusa Sam pinjem mobil itu buat jemput ibunya di bandara. Tapi pas sampai di jalan yang sepi mobilnya ada yang begal. Ayah jangan marah. Abel tau itu mobil kesukaan ayah.”

“Hey hey, kalau lagi ngomong tatap mata ayah. Udah gak apa-apa, gausah takut. Jangan dipikirin, ayah bisa beli lagi, yang penting kamu selamat.