I love you more


Memandangi wajahnya pada pantulan cermin, lelaki manis yang memiliki nama asli Na Jaemin itu mengerutkan bibirnya.

Jaemin kesal dengan lelaki tampan yang menjadi salah satu member boy group yang sama dengannya, dan juga sekarang telah menjadi kekasihnya itu, yang dengan sengaja menggigit bibirnya sampai berdarah, dan meninggalkan bekas luka gigitan pada bibirnya.

Jaemin mengaduh kesakitan dan meneriaki kekasihnya itu. Lee Jeno atau biasa dipanggil Jeno, yang merupakan kekasih dari seorang Na Jaemin itu hanya tersenyum bodoh, yang menampakkan deretan gigi rapinya itu.

Jaemin semakin kesal ketika kekasihnya melakukan hal itu kepada dirinya, dengan alasan terlalu bosan dan tak tahu ingin melakukan apa. Jika bukan kekasih, sudah Jaemin tendang hidung mancungnya itu.

Jaemin bisa saja terima apa yang dilakukan oleh Jeno pada dirinya. Tapi masalahnya, malam nanti ada jadwal tour konser terakhir di tahun ini, yang mengharuskannya untuk tersenyum setiap saat.

Jaemin merutuki kelakuan bodoh sang kekasih, jangankan untuk tersenyum, untuk berbicara saja rasanya sakit.


Sore menjelang malam pun tiba, di mana sebentar lagi konser dimulai. Jaemin cukup lega karena para make up artist telah berhasil menutupi luka yang ada pada bibirnya. Walaupun masih terlihat sedikit. Jaemin menghela nafasnya, walaupun sudah ditutupi tapi masih saja terasa sakit.

Konser pun dimulai, semuanya berjalan dengan lancar seperti biasanya. Tapi kali ini ada sedikit yang berbeda. Jaemin yang terlihat menjauhi Jeno dan malah selalu menempel dengan Jisung. Sedangkan Jeno hanya bisa melihat bagaimana kekasihnya itu menempeli sang maknae kemanapun.

Jaemin masih kesal dengan Jeno, ia bahkan menjauhi Jeno, tidak mendengarkan bila Jeno sedang berbicara padanya, bahkan tidak menoleh saat sang kekasih memanggil namanya.

Bagaimana tidak kesal, ia diharuskan untuk selalu tersenyum agar para penggemar merasa senang. Mau tidak mau ia harus melakukannya.

Jaemin tersenyum hanya sedikit tidak selebar biasanya. Kalau biasanya ia akan dengan senang dan setulus hati tersenyum kepada para penggemar, tapi kali ini berbeda, terlihat seperti sedikit terpaksa. Oh sungguh, untuk menyanyi saja bibirnya itu terasa sakit.

“Tapi yang terpenting aku sudah berusaha, ah semua ini gara-gara Lee Jeno sialan, aku benci dirimu.” Batin Jaemin yang menyemangati dirinya sendiri.

Beberapa menit kemudian, Jaemin beserta member lain sedang melakukan break. Mereka telah membawakan beberapa lagu.

“Jaemin-ah..” panggil sang manajer yang tengah menghampiri Jaemin yang sedang duduk sendirian memainkan ponselnya.

“Oh hyung?” Jaemin mengalihkan pandangannya ke arah sang manajer.

“Kau baik-baik saja?” Tanya sang manajer dengan raut wajah khawatir.

“Aku? Memangnya aku kenapa?” Tanya Jaemin dengan raut wajah bingung.

“Kau terlihat berbeda dari biasanya. Sebentar,” sang manajer mendekatkan wajahnya pada wajah Jaemin.

“Bibirmu itu kenapa?” Lanjut sang manajer yang masih memperhatikan bibir Jaemin.

Jaemin terlonjak kaget dengan pertanyaan manajernya itu, sontak ia memundurkan tubuhnya untuk menjauhkan wajahnya dengan wajah sang manajer.

“Huh? Bibirku?” Tanya Jaemin yang kini tengah memegangi bibirnya dengan tangan kirinya.

“Iya, bibirmu kenapa?” Ulang sang manajer yang juga kembali menegakkan tubuhnya.

“Ah i-ini, aku tidak sengaja menggigitinya ketika tertidur, aku juga tidak tahu kalau bisa terluka separah ini.” Jawab Jaemin yang tentunya tangah berbohong.

'Tidak hyung, ini semua adalah ulah si sipit sialan Jeno, ia telah menggigit bibirku dengan alasan dirinya tengah bosan.' Sambung Jaemin yang hanya berani mengucapkan kalimat itu di dalam hati.

“Astaga, apa yang kau lakukan Jaemin, kau bisa saja melukai dirimu sendiri, dan sekarang bibirmu terluka, apakah sakit?” Tanya sang manajer.

'Hyung kau jangan memarahiku. Marahi saja Jeno sialan itu.' batin Jaemin tidak terima kalau ia yang disalahkan.

“Hanya sedikit. Maafkan aku Hyung.” Kata Jaemin sambil menunduk. Bukan, Jaemin bukan sedang merasa bersalah, tapi ia tengah mengumpati kekasihnya itu di dalam hati.

“Tidak apa-apa. Tapi jangan kau ulangi lagi ya. Itu tidak baik untukmu. Kau bisa merusak bibirmu itu. Dan juga para penggemar akan merasa khawatir atau bahkan mencurigai dirimu, Jaemin-ah.” Kata sang manajer lembut.

“Terimakasih hyung. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi tidak tahu kalau Jeno.” Suara Jaemin mengecil ketika menyebutkan nama Jeno.

“Huh?” Sang Manajer mengernyitkan dahi.

“Ah tidak-tidak. Kalau begitu aku akan bergabung dengan member yang lain ya Hyung, permisi.” Ucap Jaemin terburu-buru dan meninggalkan sang manajer, tapi sebelum itu ia membungkuk terlebih dahulu kepada sang manajer.

Sang manajer hanya terkekeh melihat tingkah Jaemin. Ia sudah mengetahui hubungan Jeno dan Jaemin sejak lama. Namun, ia memilih untuk berpura-pura tidak mengetahui apapun, ia tidak ingin mencampuri urusan percintaan para membernya. Apapun yang terbaik untuk membernya pasti ia dukung.


Menghembuskan nafas lega, Jaemin menyenderkan kepalanya pada senderan kursi mobil. Jaemin dan yang lainnya baru saja menyelesaikan konser mereka.

Mereka merasa sangat lelah dan memutuskan untuk menginap di hotel sebelum penerbangan besok pagi.

Jaemin masih saja merasa kesal dengan Jeno. Bahkan ia tidak mau satu mobil dengan Jeno untuk perjalanan menuju hotel. Jaemin menarik Renjun untuk satu mobil dengannya, diikuti oleh Chenle dan juga Jisung. Sedangkan Jeno, Mark, dan Haechan di mobil lain.

Jeno hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia sendiri tengah dijauhi oleh Jaemin, dan sekarang, ia hanya menjadi obat nyamuk di antara Mark dan Haechan yang saling menempel satu sama lain dan juga bermesraan, tanpa memperdulikan keberadaan Jeno.


Ternyata mobil yang ditumpangi Jaemin, Renjun, Chenle, dan Jisung sampai lebih dulu, mereka sudah sampai di hotel. Jaemin dan Chenle duduk di bangku yang ada di lobi hotel untuk menunggu yang lainnya sampai. Sedangkan Renjun dan Jisung sedang pergi ke toilet.

“Aissh, mereka kenapa lama sekali sih.” Gumam Jaemin yang kini memasang wajah kesal yang dibuat-buat.

“Sabar sedikit hyung, sebentar lagi mereka sampai.” Balas Chenle yang terkekeh melihat hyung-nya yang sangat menggemaskan itu.

“Tapi aku sudah lelah sekali, aku ingin segera istirahat.” Kata Jaemin yang mengerucutkan bibirnya.

“Aku juga lelah hyung, tapi aku tidak banyak mengeluh sepertimu.” Jawab Chenle yang lagi-lagi terkekeh melihat wajah kesal Jaemin yang menurutnya itu sangat menggemaskan.

“Kau menyebalkan.” Jaemin memalingkan wajahnya, ia sedikit kesal dengan Chenle yang tadi mengejeknya.

“Iya iya, maafkan aku. Tapi hyung, aku ingin bertanya padamu,” Chenle menggantungkan perkataannya.

“Bibirmu itu kenapa?” Tanya Chenle dengan hati-hati.

Sontak Jaemin kembali menolehkan kepalanya, menghadap ke arah Chenle.

“Ah ini. A-aku tidak sengaja menggigitinya ketika tertidur, iya ketika tertidur.” Jawab Jaemin sedikit gugup.

Chenle hanya bisa ber oh ria saja. Ia tahu Jaemin tengah berbohong padanya, bisa Chenle lihat dari mata Jaemin yang tidak berani menatap matanya, dan juga nada bicara Jaemin sedikit gugup tadi.

“Hyung, kau sedang bertengkar dengan Jeno Hyung?” Tanya Chenle to the point, ia menyadari ada yang aneh dari Jeno dan Jaemin, terutama pada Jaemin yang terlihat menjauhi Jeno.

“Huh? I-iya. Eh tidak. Tidak-tidak. Aku tidak sedang bertengkar dengannya.” Jawab Jaemin dengan cepat.

“Apa.. luka di bibirmu itu perbuatan Jeno Hyung?” Tanya Chenle menerka-nerka dengan memelankan suaranya.

Chenle mendekatkan wajahnya pada telinga Jaemin. “Apa kau marah dengannya karena itu?” Bisik Chenle yang membuat Jaemin membulatkan matanya.

“Yak! Chenle. Apa yang kau bicarakan huh?” Jawab Jaemin sedikit berteriak.

Lelaki manis itu tidak menyangka apa yang dikatakan oleh Chenle semuanya adalah kebenaran. Bagaimana bocah berkulit putih itu mengetahui semuanya? Apakah Jeno yang memberitahunya? Kalau benar, akan Jaemin marahi atau bahkan memukuli kekasihnya itu.

“Yak! Jaemin-ah, kenapa kau berteriak?” Tanya Renjun yang baru saja kembali dari toilet dengan Jisung yang mengekor di belakangnya.

“Tidak ada. Kenapa kalian lama sekali?” Tanya Jaemin berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Ada urusan dengan alam.” Jawab Renjun asal.

“Ah! itu mereka sudah sampai.” Kata Jisung menunjuk ke arah pintu masuk yang memperlihatkan Jeno, Mark, Haechan, dan yang lainnya yang baru saja masuk.

Jaemin dan juga Chenle berdiri dari duduknya.

“Kenapa lama sekali sih? Aku sudah sangat lelah, aku ingin istirahat.” Keluh Jaemin.

“Maaf, tapi sungguh jalanan sangat macet.” Kata Jeno.

Ketika Jeno ingin memegang tangan jaemin, dengan cepat Jaemin menarik tangannya dan melipatnya di depan dada.

“Aku tidak bertanya padamu.” Jawab Jaemin dengan nada yang sangat dingin.

“Yang dikatakan Jeno itu benar, Jaemin-ah.” Kali ini Mark yang angkat suara.

“Berhubung semuanya sudah kumpul. Jadi untuk malam ini, Mark dan Haechan tidur satu kamar. Renjun, Chenle dan Jisung. Dan Jaemin bersama Jeno. ” Jelas sang manajer.

“Apa? Tidak-tidak. Aku tidak mau dengannya. Aku mau bersama Jisung. Renjun kau saja ya yang bersama Jeno.” Ucap Jaemin dengan mata membulat.

“Tidak mau. Aku, Chenle dan juga Jisung sudah sepakat untuk tidur sekamar.” Tolak Renjun dengan cepat.

“Kalau begitu, aku dengan Haechan saja ya?” Tanya Jaemin yang merubah raut wajahnya menjadi memelas.

“Tidak. Aku hanya ingin berdua bersama Mark Hyung.” Jawab Haechan yang tengah memeluk erat lengan Mark.

“Oh ayolah Jaemin-ah. Kau ini kenapa? Bukankah kau selalu tidur sekamar dengan Jeno? Sudah ya, tidak ada penolakan. Kalian semua pergi ke kamar masing-masing, istirahat. Jangan sampai kesiangan ya.” Jelas sang manajer.

“Baik hyung, selamat malam.” Ucap Mark, Haechan, Renjun, Jeno, Chenle, dan Jisung secara bersamaan.

Menghela nafas, Jaemin menjawab dengan malas. “Baik hyung, selamat malam.”

“Selamat malam juga.” Jawab sang manajer. Setelah itu ia pergi meninggalkan mereka dan pergi ke kamar hotel.

“Hyung, ayo kita ke kamar, aku sudah lelah, aku ingin tidur.” Rengek Haechan dengan bergelayut manja pada lengan Mark.

“Iya sayang, sebentar ya aku pamit pada yang lainnya dulu.” Bisik Mark pada Haechan.

“Baiklah, kalau begitu kami duluan ya, selamat malam semuanya.” Ucap Mark sambil melambaikan tangannya pada teman-temannya.

Setelah itu, Mark dan Haechan melenggang pergi menuju kamar hotel mereka, dengan Mark yang merangkul pinggang Haechan dengan posesif, dan Haechan yang memeluk pinggang Mark dari samping.

Renjun, Chenle, dan Jisung juga melangkahkan kaki mereka menuju kamar hotel.

“Jaemin Hyung! Segera selesaikan urusanmu dengan Jeno Hyung ya! Besok aku tidak ingin melihat kalian masih bertengkar lagi!” Chenle sedikit berteriak karena ia sudah berada cukup jauh dari Jaemin dan juga Jeno. Jaemin membalas dengan menatap tajam Chenle.

“Na aku-” Jeno menggenggam tangan Jaemin, namun dengan cepat Jaemin menghempaskan lengannya sehingga membuat genggaman itu terlepas.

“Aku tidak mengenalmu.” Ucap Jaemin dingin lalu pergi meninggalkan lelaki tampan yang tak lain merupakan kekasihnya itu tanpa menoleh ke belakang.

Jeno menghela nafas. Ia harus sabar menghadapi Jaemin yang sedang marah, terlebih ia juga yang menyebabkan Jaemin seperti itu.


Di kamar hotel Jaemin duduk di tepi kasur dan tengah asik memainkan ponselnya. Sedangkan Jeno, lelaki tampan itu tengah membersihkan dirinya di kamar mandi.

Sejak pertama masuk ke kamar hotel, Jeno langsung masuk begitu saja ke kamar mandi. la tidak tahu harus melakukan apa, Jaemin juga sedang marah padanya, jadi ia memutuskan untuk mandi saja.

Tak lama, Jeno keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan bathrobe dan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah.

Jeno berdiri tak jauh dari kasur, dari sana ia melihat Jaemin yang tengah asik memainkan ponselnya. Jeno terkekeh melihat Jaemin yang tengah mengerucutkan bibirnya tanpa sadar.

Jeno pun berjalan menghampiri Jaemin dan berdiri di depan lelaki manisnya itu.

“Na, mandilah. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu.” Ucap Jeno dengan senyum khasnya.

Ucapan Jeno yang tiba-tiba membuat Jaemin terlonjak kaget, ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah Jeno.

Jaemin mendongak menatap lelaki tampan yang juga tengah menatap dirinya. Hatinya menghangat ketika melihat senyum yang menenangkan itu. Sedangkan lelaki tampan itu tengah menatap Jaemin seakan tidak ada hal lain yang harus ia lihat.

Jaemin menggelengkan kepalanya. Ia baru sadar kalau ia masih kesal dengan Jeno. Jaemin berdiri dari duduknya lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.

Lelaki manis itu tidak ingin terlalu lama melihat wajah kekasihnya. Untuk saat ini Jaemin tidak ingin rasa kesalnya hilang hanya karena melihat wajah Jeno, apalagi senyuman lelaki tampan itu.

Jeno hanya terdiam. la tengah memikirkan sesuatu. “Cara yang tepat apa, agar kau bisa memaafkanku, Na?” Gumam Jeno.

Setengah jam kemudian Jaemin keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaus putih polos dan juga celana hitam selutut. Sengaja ia memakai pakaiannya di dalam kamar mandi, ia tidak ingin memakai pakaiannya di depan Jeno. Jaemin ingatkan, ia masih kesal dengan kekasihnya itu.

“YAK! LEE JENO! APA YANG KAU LAKUKAN?” Teriak Jaemin. Mata Jaemin terbelalak dan seakan jantungnya seperti berhenti bedetak.

Bagaimana tidak? Seorang Lee Jeno yang merupakan kekasihnya itu tengah bersandar pada kepala ranjang sambil asik memainkan ponselnya.

Bukan itu yang membuat Jaemin terkejut setengah mati. Melainkan lelaki tampan itu sekarang tengah bertelanjang bulat. Tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh atletisnya.

Jaemin menutup wajahnya dengan kedua tangannya rapat-rapat. Wajahnya memanas saat melihat tubuh atletis Jeno. Dari rambut yang berantakan, mata sipit, hidung mancung, garis rahang yang tegas, bahu lebar, dada bidang, bisep, delapan kotak yang ada pada perutnya, dan er..... kejantanan Jeno yang tengah tertidur. Pipi Jaemin memerah saat membayangkan itu.

“kenapa? Aku sedang memainkan ponselku.” Ucap Jeno datar yang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.

Bibir Jeno berkedut menahan senyum, ia sempat melihat wajah Jaemin yang memerah seperti udang rebus.

“B-bukan itu! kenapa kau tidak memakai bajumu!” Jaemin sedikit berteriak. Ia masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya itu.

“Biarkan saja seperti ini.” Jawab Jeno acuh, ia masih saja fokus pada layar ponselnya.

“Yak! Bagaimana kalau ada yang masuk? cepat pakai bajumu!” Ucap Jaemin yang masih sedikit berteriak.

Jeno mendongak menatap Jaemin yang masih saja berdiri di tempatnya, layaknya patung, yang menutup wajahnya dengan kedua tanganya. Sebelah bibir lelaki tampan itu terangkat, membuat seringaian.

“Maka dari itu, maafkan aku, baru aku akan memakai bajuku. Kalau kau tidak memaafkan aku, ya sudah biarlah aku seperti ini, bertelanjang bulat hingga pagi. Atau bahkan ke bandara pun seperti ini.” kata Jeno dengan masih mempertahankan seringaiannya.

“Lee Jeno! Apa kau sudah gila?!” Jaemin berteriak. la memberanikan diri untuk membuka penutup matanya, yang tak lain merupakan tangannya sendiri. la meluruskan pandangannya pada wajah Jeno, tidak ingin melihat tubuh bagian selatan lelaki tampan itu.

Jeno turun dari ranjangnya dan berjalan menghampiri Jaemin. Dengan santainya ia berjalan tanpa merasa malu karena sudah bertelanjang bulat di depan Jaemin.

Melihat Jeno yang berjalan ke arahnya, Jaemin dengan cepat menutup matanya kembali dengan kedua tangannya.

“Sayang, kenapa kau menutup matamu? Malu? Oh buat apa malu, kau bahkan sering melihatku seperti ini disaat kita mandi bersama.” Ucap Jeno yang dengan santainya berjalan mendekati Jaemin yang tengah berjalan mundur, Jeno berjalan tanpa rasa malu.

“Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Jaemin yang kini menahan nafasnya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Punggungnya sudah menabrak dinding kamar. Jaemin sudah terjebak.

Bukannya menjawab, Jeno malah mengungkung tubuh Jaemin. Tangan kanan Jeno bergerak untuk menarik pelan kedua tangan Jaemin yang menutup matanya sendiri. Dengan cepat Jaemin memalingkan wajahnya, ia tidak ingin menatap wajah kekasihnya itu.

“Iya. Aku sudah gila. Aku gila kalau kau seperti ini terus. Aku gila memikirkan bagaimana lagi aku harus minta maaf padamu, Na.” Ucap Jeno dengan nada frustasinya.

“Tatap aku, Na.” Titah Jeno pada Jaemin. Jaemin pun menurut, ia pun menatap mata Jeno.

“Nana sayang, aku minta maaf. Aku benar-benar meminta maaf padamu. karena kebodohanku kau jadi terluka seperti itu. Aku sudah membuat bibirmu terluka, aku memang bodoh, Na. Aku minta maaf, maaf karena sudah menyakitimu.” Ucap Jeno dengan suara lembut.

Jeno pun menangkup wajah Jaemin dengan kedua tangannya.

“Jujur Na, aku sudah tidak tahu lagi harus meminta maaf padamu dengan cara apalagi. Aku tidak akan beralasan apapun. Aku memang salah. Aku mengakuinya. Tapi tolong maafkan aku, Na. Aku tidak tahan melihat kau terus-menerus menjauhiku. Kalau kau ingin memukulku, menendangku, atau bahkan membunuhku. Silahkan. Aku akan mati dengan tenang jika kau sudah memaafkanku.” Lanjut Jeno dengan nada sendunya.

“Sudah?” Tanya Jaemin. Jeno menjawab dengan mengganggukkan kepalanya.

BRUKK

“Ahhk” Jeno memegangi perutnya dan meringis merasakan sakit pada perutnya.

Ya, Jaemin sudah menendang perut Jeno membuat Jeno jatuh terduduk di lantai. Jeno meringis, tendangan kekasihnya itu tidak bisa diragukan, meskipun tubuhnya itu tergolong cukup kurus tapi tenaganya sangat besar.

“Itu untuk rasa sakit pada bibirku.” kata Jaemin dengan wajah datarnya.

Melihat Jaemin yang sepertinya tidak merasa bersalah, Jeno pun berinisiatif untuk membuat lelaki manisnya itu mengkhawatirkannya.

“Ahhk, Na... i-ini sakit sekali. Sakit sekali sampai aku tidak bisa...bernafas.” Jeno berakting seakan-akan ia tengah merasakan kesakitan yang teramat sangat. Padahal tendangan Jaemin tidak sesakit itu.

Jeno pun semakin menjadi, ia meringkukkan tubuhnya sambil memegangi perutnya, seolah ia sudah tidak kuat lagi.

“Nana.. ini sakit sekali.” Desis Jeno.

“Astaga Jeno!” Jaemin pun panik, dengan cepat ia menghampiri Jeno dan mengusap-usap perut Jeno.

“Apakah sangat sakit? Apa aku menyakitimu? Astaga Jeno maafkan aku.” Ucap Jaemin dengan raut wajah dan nada bicara yang teramat khawatir.

Jeno mengulum senyumannya. Aktingnya berhasil, ia sukses membuat Jaemin khawatir padanya.

Jeno pun bangkit dan langsung menubruk tubuh Jaemin untuk dipeluknya. Posisi mereka sangatlah intim, dengan Jaemin yang tidur terlentang di lantai dan Jeno yang menindih tubuh Jaemin.

Perlu diingatkan lagi, kalau jeno masih bertelanjang bulat, tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh atletisnya. Jaemin merasakan jantungnya berdebar dan juga pipinya memerah saat merasakan kejantanan jeno yang mengenai perutnya.

“Yak! Badanmu berat Jeno. Jangan memelukku. Pakai dulu bajumu sialan!” Teriak Jaemin. Oh sungguh tubuh Jeno sangat berat, dan juga ia tidak ingin Jeno mendengar detak jantungnya yang sedang berdebar saat ini.

Jaemin pun mendorong tubuh Jeno, membuat Jeno menyingkir dari atas tubuh Jaemin. Ia pun berdiri begitu pula dengan Jeno.

“Kalau begitu pakaikan celana dalam dan juga celanaku.” Rengek Jeno dengan mengerucutkan bibirnya yang sukses membuat Jaemin bergidik ngeri melihatnya. Sungguh Jeno tidak cocok seperti itu.

“Pakai saja sendiri, kau bukan anak kecil lagi Lee.” Jawab Jaemin lalu pergi meninggalkan Jeno dan berjalan menuju kasur.

Jeno tersenyum senang, walaupun Jaemin tidak menurutinya untuk memakaikan celana dan juga celana dalam untuknya, tetapi Jeno merasa lega karena Jaemin sudah memaafkannya, walaupun Jaemin belum mengatakan kalau ia sudah dimaafkan.


Jaemin tengah fokus mengetik pesan bubble pada sebuah aplikasi untuk mengabari para penggemar dan mengklarifikasi masalah bibirnya yang terluka itu. Jaemin tidak bodoh, ia tahu para penggemarnya itu bagaikan memiliki mata elang, mereka pasti sudah melihat luka kecil yang ada pada bibirnya.

Jaemin bahkan mengabaikan Jeno yang tengah memakai celana dan juga tengah mengeringkan rambutnya.

'Selamat malam semuanya. Tentang bibirku yang terluka, kalian semua pasti sudah melihatnya kan? Tidak perlu khawatir atau memikirkan hal aneh. Itu terjadi akibat ulahku sendiri. Aku tidak sengaja menggigiti bibirku ketika tertidur. Maafkan aku, aku telah ceroboh. Kalian tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil. Ya sudah, sampai di sini saja ya, aku harus istirahat. Kalian juga harus istirahat ya. Selamat malam.' Isi pesan Bubble yang Jaemin kirim.

“Maafkan aku karena sudah membohongi kalian semua. Maaf.” Batin Jaemin yang merasa bersalah karena sudah membohongi para penggemarnya.

Selesai dengan aktivitasnya; memakai celana dan mengeringkan rambutnya. Jeno menghampiri Jaemin yang tengah sibuk memainkan ponselnya di atas kasur. Jeno ikut duduk di samping Jaemin dan langsung merebut ponsel Jaemin dari tangan sang pemilik ponsel.

Jaemin hanya diam dan membiarkan Jeno memainkan ponselnya.

Setelah membaca pesan bubble yang Jaemin kirimkan untuk para penggemar, Jeno menolehkan kepalanya kepada Jaemin, ia pun menatap Jaemin dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Kenapa kau berbohong?” Tanya Jeno dengan menaikkan sebelah alisnya.

“Kau bertanya kenapa aku berbohong? Kau gila? Kalau aku mengatakan yang sebenarnya, ah aku tidak bisa membayangkan itu, nanti penggemar kita akan memikirkan yang tidak-tidak mengenai kita. Mereka nanti berpikiran bahwa kita memiliki hubungan spesial. Ah tidak!” Kata Jaemin dengan raut wajah cemas.

“Na, kitakan memang menjalin hubungan spesial, aku kekasihmu dan kau kekasihku.” Jeno memiringkan kepalanya.

“Oh iya, aku lupa. Lagi pula seorang kekasih mana yang tega melukai bibir pasangannya hanya karena merasa bosan.” Sungut Jaemin kesal.

Jeno menepuk-nepuk pahanya mengisyaratkan agar Jaemin duduk di pangkuannya. Jaemin menurut, ia pun duduk di pangkuan Jeno dengan menghadap ke arah Jeno.

“Aku kan sudah meminta maaf sayang. Kau masih marah denganku?” Tanya Jeno yang tengah melingkarkan tangannya pada pinggang Jaemin.

“Sedikit.” Gumam Jaemin. Lelaki manis itu menempelkan dahinya pada bahu Jeno.

Jaemin memeluk leher Jeno. “Jeno-yaa, apakah aku terlihat buruk dengan bibirku yang terluka ini?” Rengekan Jaemin membuat Jeno terkekeh. Jeno sangat senang, Jaemin-nya sudah kembali seperti biasanya.

Jeno pun melepas pelukannya, mendorong bahu Jaemin pelan, lalu menangkup wajah Jaemin.

“Tidak sayang, Jangan bicara seperti itu. Tidak ada kata buruk dalam kehidupan seorang Lee Jaemin. Bagiku kau sempurna, ya walaupun aku tahu tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kalaupun itu benar. Aku Lee Jeno bersedia dengan senang hati untuk menyempurnakan kehidupanmu.”

Kata-kata yang dikeluarkan oleh sang kekasih membuat wajah Jaemin memanas, bagaimana bisa lelaki tampan itu mengeluarkan kata-kata manis yang sukses membuat hati Jaemin menghangat.

Jaemin menundukkan kepalanya, “Kau yakin?” Tanya Jaemin dengan suara yang sangat kecil tapi masih terdengar oleh telinga Jeno.

Jeno mengangkat wajah Jaemin agar bisa menatap wajahnya. “Yakin. Sangat yakin. Seratus, seribu persen, ah tidak sejuta persen, aku sangat yakin sayang. Kau bisa pegang kata-kataku.”

Mata Jaemin dibuat berkaca-kaca mendengar perkataan dari kekasihnya itu. Ia bisa melihat kejujuran, ketulusan, dan tidak melihat keraguan yang ada pada mata Jeno.

Ibu jari jeno mengusap lembut pipi Jaemin, sebelum akhirnya menempelkannya pada bibir Jaemin yang terdapat luka kecil di sana.

“Apakah masih sakit?” Tanya Jeno yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Jaemin. “Mau aku obati?” Tanya Jeno lagi.

“Memangnya kau mempunyai obatnya?” Jawab Jaemin yang balik bertanya.

“Aku punya.” Jawab Jeno dengan senyuman manisnya.

Jeno pun memiringkan kepalanya, dan mendekatkan wajahnya pada wajah Jaemin. Jarak keduanya hanya tinggal beberapa senti.

“Kau mau apa? Aku tidak ingin bibirku terluka lagi.” Ucap Jaemin dengan nada sedikit panik. la pun menutup mulut Jeno dengan tangan kanannya.

Perlahan Jeno menyingkirkan tangan Jaemin yang berada pada bibirnya.

“Hey Nana. Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi, sayang. Percayalah padaku.” Jeno berbisik tepat di depan bibir Jaemin.

“Kau percaya padaku?” Tanya Jeno yang hanya diangguki oleh Jaemin. “Terima kasih, dan bolehkah aku menciummu sekarang?” Senyum manis tak pernah luntur dari wajah Jeno.

Jaemin mengangguk. “Lakukan sesukamu.” Titah Jaemin dengan senyum manisnya.

Setelah mendapatkan izin dari kekasihnya, Jeno menempelkan bibirnya pada bibir Jaemin. Bibir mereka menempel cukup lama sebelum akhirnya Jeno menggerakkan bibirnya untuk mengulum bibir bawah Jaemin secara lembut.

Jeno menyesap bibir atas dan bibir bawah Jaemin secara bergantian. Jaemin pun membalas ciuman itu. Jaemin membuka mulutnya untuk memberikan akses kepada Jeno, untuk memasukkan lidahnya. Kesempatan itu tidak Jeno sia-siakan, ia memasukkan lidahnya ke dalam mulut Jaemin, mengabsen deretan gigi kekasihnya itu, lidah mereka saling berbelit satu sama lain.

Hingga akhirnya mereka harus menyudahi kegiatan mereka, karena keduanya membutuhkan oksigen untuk bernafas.

Jeno tersenyum menatap Jaemin yang juga tersenyum padanya.

“Aku mencintaimu Jaemin, sangat-sangat mencintaimu.” Ucap Jeno yang mengusap lelehan air liur pada dagu Jaemin dengan ibu jarinya.

Jaemin tersenyum. “Aku tahu itu. Aku juga sama sepertimu Jeno. Aku sangat mencintaimu.” Jaemin juga mengusap lelehan air liur yang ada pada dagu Jeno.

“Apa sekarang kau masih marah denganku?” Tanya Jeno yang tengah mengusap rambut Jaemin.

Bukannya menjawab, Jaemin justru mencium pipi Jeno selama beberapa detik, hingga akhirnya Jaemin pun melepas ciumannya. Ciuman itu sukses membuat lelaki tampan yang ada di hadapan Jaemin melebarkan kedua matanya yang sipit itu

“Waw, apa itu?” Tanya Jeno dengan tangan yang menutup mulutnya yang terbuka lebar. Jeno tidak menyangka Jaemin melakukan itu padanya. “Barusan kau mencium pipiku?” Lanjut Jeno dengan nada terkejut yang dibuat-buat.

“Yak! Kau seperti baru pertama kalinya dicium olehku saja.” Jaemin memukul bahu Jeno.

“Tapi untuk apa kau menciumku seperti itu?” Tanya Jeno dengan menaikkan kedua alisnya.

“Untuk apa? Jadi kau tidak mau aku cium?” Jaemin melotot dan mendekatkan wajahnya pada wajah Jeno.

“Tentu saja aku mau. Tapi ciuman tadi untuk apa? artinya apa? Dalam rangka apa?” Tanya Jeno yang sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Jaemin.

“Ck. Kau ini.” Jaemin berdecak kesal, ia mendorong Jeno sehingga membuat lelaki itu terbaring dengan ia yang berada di atasnya.

“Kau ini bodoh atau apa? Ciuman itu artinya aku sudah tidak kesal denganmu lagi, Jeno.” Jelas Jaemin dengan nada kesal. Jaemin mencubit pinggang Jeno, membuat Jeno mengaduh kesakitan.

Setelah mendengar Jeno yang mengaduh kesakitan, Jaemin mengelus pinggang Jeno yang sedikit memerah pada bagian yang ia cubit tadi. Jaemin memeluk Jeno dan menaruh kepalanya pada dada Jeno.

“Apapun yang kau lakukan padaku, hal konyol apapun itu, itu tidak bisa membuatku marah padamu. Aku tidak bisa marah padamu, Jeno. Aku bingung kenapa bisa seperti itu? Padahal kalau dipikir-pikir, kau itu sangat menyebalkan.” Gumam Jaemin.

“Apakah kau sedang berbohong? Kau bilang kau tidak bisa marah padaku, tapi nyatanya seharian ini kau menjauhiku, Na.”

“Tidak. Aku tidak sedang berbohong padamu. Untuk seharian ini aku menjauhimu, karena aku kesal, ya bisa dibilang kalau aku sedang marah, tapi itu hanya amarah sesaat, marahnya aku padamu itu tidak akan bertahan lama Jeno, percaya itu.” Ucap Jaemin yang mendongakkan kepalanya menatap wajah Jeno.

Jeno merubah posisi mereka menjadi menyamping. Mereka tidur menyamping dengan menghadap satu sama lain.

Jeno merengkuh pinggang ramping Jaemin, membawa lelaki manis itu ke dalam pelukannya. Jaemin juga ikut memeluk pinggang Jeno dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang kekasihnya itu.

Jeno menempelkan dagunya pada puncak kepala Jaemin. Sebelah tangannya mengusap-usap punggung Jaemin dengan lembut.

“Itu artinya kau sangat mencintaiku, Na. Kau juga sepertinya sudah menjadi budak cintaku. Nana budak cinta Jeno. Wah sangat indah bukan?” Kata Jeno.

“Yak! Mana ada seperti itu. Bukan aku yang jadi budak cintamu, tapi kau. Kau Jeno.” Jawab Jaemin tidak terima dengan perkataan kekasihnya.

“Kenapa aku? Bukannya tadi kau bilang kalau kau tidak bisa marah padaku. Jadi kau yang menjadi budak cintaku.” Jeno juga tidak mau kalah.

“Tidak. Ingat Jeno, kau juga seperti itu, bahkan lebih parah dariku. Jadi bukan aku orangnya tapi kau. Aku tidak mau tahu, kau yang sudah menjadi budak cintaku, Jeno.” Jaemin melonggarkan pelukannya pada Jeno, ia mendongak menatap wajah Jeno dan memberikan tatapan tajam kepada lelaki tampan itu.

Jeno menatap mata Jaemin. “Baiklah-baiklah aku mengalah. Iya, aku yang sudah menjadi budak cintamu. Kau senang?”

“Tentu saja aku senang, sayang.” Jaemin kembali menenggelamkan wajahnya pada dada Jeno. “Lee Jeno, terima kasih sudah menjadi budak cintaku. I love you.” Gumam Jaemin.

“Apapun untukmu sayang, dan I love you more than you love me.” Jeno mencium puncak kepala Jaemin.

“Aku memaafkanmu. Aku juga ingin meminta maaf karena sudah menjauhimu hari ini.” Ucap Jaemin.

“Tidak apa-apa, sayang. Itu bukan salahmu, kau marah padaku karena kesalahanku, jadi kau tidak ada salah apapun. Dan terima kasih sudah memaafkanku.”

“Terima kasih kembali sayang, aku menyayangimu.” Jaemin mencium pipi Jeno.

Jeno membalas dengan mencium bibir Jaemin. “Aku juga menyayangimu.” Jeno tersenyum begitu juga dengan Jaemin.

“Yasudah besok pagi kita ada penerbangan, aku lelah sekali dan sudah sangat mengantuk.” Ucap Jaemin yang dibarengi dengan menguap. Ia sangat lelah karena seharian ini belum istirahat sama sekali.

“Sepertinya rasa lelahku hilang begitu saja saat melihat senyumanmu.” Ucap Jeno.

“Hue, rasanya aku ingin muntah mendengar perkataanmu itu.” Jaemin berlaga seperti ingin memuntahkan isi perutnya.

“Aku berkata jujur sayang.” Jeno mencium puncak kepala Jaemin.

“Kalau begitu terima kasih. Aku sangat mengantuk, aku tidur terlebih dulu ya. Dan kau harus memimpikan aku agar mimpimu jadi mimpi indah.” Ucap Jaemin.

“Percaya diri sekali kau, tapi memang benar sih, kau lah sesuatu yang indah di hidupku.” Jeno mengelus rambut Jaemin.

“Jangan membual terus, aku ingin tidur.” Jaemin memukul pelan punggung Jeno.

“Selamat malam cantikku.” Jeno masih saja mengelusi rambut lembut Jaemin.

“Aku laki-laki Jeno, mana mungkin aku cantik. Aku tampan!” Jaemin memukul pelan punggung Jeno lagi.

“You're my pretty man, Nana. Kau tampan dan juga cantik dalam waktu bersamaan. Sudah sana tidur, kau bilang tadi mengantuk, tapi sebelum itu kiss my face.”

“Aku tidak mau.” Jawab Jaemin cepat.

“Yasudah jangan tidur denganku.”

“Yasudah aku mau ke kamar Haechan saja, biarlah kau sendiri di sini.” Jaemin melepaskan pelukannya dan berusaha bangkit dari tidurnya.

Sebelum Jaemin bangun dari tidurnya, Jeno sudah menarik pelan tangan Jaemin dan memeluknya erat.

“Tidak sayang, aku tidak akan memaksamu, sekarang kau tidur ya.”

“Sebentar.” Jaemin sedikit bangun, dan mendekatkan wajahnya pada wajah Jeno. Jaemin pun mencium kedua pipi Jeno, dan kening Jeno.

“Terima kasih, sekarang giliran aku.” Jeno tersenyum lalu mencium kedua pipi, kening, dan dagu Jaemin. Terakhir Jeno menempelkan bibirnya pada bibir Jaemin cukup lama sebelum akhirnya melepaskannya. “Selamat malam.”

“Selamat malam juga.” Bagaikan obat tidur, ciuman yang Jeno berikan pada Jaemin sukses membuat Jaemin langsung pergi ke alam mimpi, sepertinya Jaemin sangat lelah sampai tidurnya sangat pulas.

“Kau tahu Na? Aku sangat mencintaimu, sangat dan sangat.” Bisik Jeno pada telinga Jaemin.


Dengan memakai pakaian rapi, Mark berdiri di lobi hotel sembari melihat sekelilingnya. Sedangkan Haechan duduk di kursi yang ada di lobi, lebih tepatnya di belakang Mark berdiri.

“Hyung apakah kau tidak pegal berdiri terus sedari tadi?” Haechan memegang tangan Mark.

“Kau jangan berdiri saja Hyung, kau harus duduk di sampingku.” Haechan menarik tangan Mark membuat Mark duduk di sampingnya.

“Kau lapar?” Tanya Mark yang meluruskan tangan kanannya pada ujung sandaran kursi yang diduduki oleh Haechan.

“Aku lapar, tapi rasa laparku terkalahkan oleh rasa kantukku Hyung.” Haechan menatap Mark yang ada di sampingnya. “Aku sangat mengantuk hoaam.” Haechan menguap lalu menyenderkan kepalanya pada bahu Mark.

Bagaimana tidak mengantuk, Mark membangunkan Haechan masih sangat pagi, sekitar jam empat pagi. Haechan yang masih mengantuk terpaksa bangun, sebenarnya ia ingin marah pada Mark yang telah tega mengganggu tidur pulasnya, tapi ia urungkan niatnya karena yang membangunkannya itu adalah kekasihnya yang paling ia sayangi.

Mark dan Haechan sudah lama memiliki hubungan bahkan lebih lama dari Jeno dan Jaemin, dan yang tahu mereka sepasang kekasih hanya Jeno dan Jaemin dan juga manajernya. Tapi mereka tahunya hanya Jeno dan Jaemin yang tahu hubungan mereka.

Mark terkekeh melihat tingkah Haechan yang menurutnya sangat menggemaskan. “Kau ini, padahal kau yang tertidur lebih dulu dari aku, bahkan semenjak pertama kali masuk ke kamar kau sudah tertidur sangat pulas. Aku sama sekali belum tidur, tapi tidak merasa mengantuk.”

“Aku kan bukan orang yang suka bergadang sepertimu Hyung.” Haechan mencubit pelan pinggang Mark.

“Yasudah kalau kau mengantuk, tidurlah, yang lain juga belum turun. Sembari menunggu yang lain turun kau tidurlah dulu.” Mark mengusap-usap rambut Haechan.

“Hyung!” Jeno berteriak. Lelaki tampan itu berdiri tak jauh dari tempat Mark dan Haechan duduk. Jeno berjalan ke arah Mark dan Haechan, di sampingnya ada Jaemin yang juga tengah berjalan bersamanya.

Setelah sampai di tempat Mark dan Haechan duduk, Jeno dan Jaemin berdiri di depan Mark dan Haechan. “Hanya ada kalian berdua?” Tanya Jeno.

“Ya begitulah, yang lain belum turun.” Jawab Mark.

“Aish kenapa kalian menggangguku saja, aku baru saja ingin tidur tapi tidak jadi karena kalian datang.” Haechan menegakkan tubuhnya. “Aku sangat mengantuk asal kalian tahu.”

“Makanya jangan bergadang kalau kau tak kuat menahan kantuk di pagi harinya.” Omel Jaemin pada Haechan.

“Aku tidak bergadang ya. Salahkan saja Mark Hyung yang tega membangunkanku pagi-pagi buta seperti ini.” Jawab Haechan tak terima.

“Mark Hyung tidak salah, memang benar kau harus bangun pagi sekali agar tidak tertinggal pesawat.” Ucap Jaemin yang tak mau kalah.

“Nana benar, kalau kau ingin tidur lagi silahkan, sana tidur lagi, tapi kau harus membeli tiket pesawatnya sendiri dan pulang sendiri.” Ucap Jeno yang pastinya berada di pihak Jaemin.

“Kalian berdua sangat menyebalkan.” Haechan menggembungkan pipinya, membuat dirinya terlihat sangat menggemaskan.

“Sudah-sudah. Jeno dan Jaemin benar sayang, kalau kau sangat mengantuk kau bisa tidur di pesawat nanti.” Mark mengusap-usap pipi Haechan.

Jaemin dan juga Jeno duduk di sebelah Mark dan Haechan duduk, dengan Jaemin yang duduk di sebelah kiri Mark dan Jeno yang duduk di ujung kursi di samping Jaemin.

Mark menoleh ke samping, ke arah Jaemin, dan matanya melihat sesuatu yang aneh. “Tunggu-tunggu. Lehermu itu kenapa?”

“Leherku kenapa?” Jaemin malah balik bertanya.

“Seperti err.” Ucap Mark dengan hati-hati.

“Apa?” Tanya Jaemin penasaran.

“Sebentar aku punya cermin kecil.” Haechan menggeledah tas kecilnya. “Nah ini dia cermin nya, ini cerminnya.” Haechan memberikan cermin kecil itu kepada Jaemin.

“Astagaaa!” Jaemin terkejut saat melihat cermin, di lehernya terdapat tiga tanda seperti lebam berwarna merah keunguan, bahkan ukurannya cukup besar.

“Apakah itu kissmark?” Tanya Haechan yang sebenarnya sudah tahu apa yang ada di leher Jaemin.

“Jeno sialaaaann!” Jaemin berteriak sembari mencubit pinggang Jeno. Ia sudah hafal lebam keunguan atau biasa disebut dengan kissmark yang ada pada lehernya itu pasti ulah kekasihnya, siapa lagi kalau bukan Jeno.

“Aw aw Na, sakit aw.” Jeno memegangi tangan Jaemin yang mencubit pinggangnya. “Kau ini kenapa? Kenapa mencubit pinggangku?”

“Ini, kau yang membuatnya kan? Kau yang membuat kissmark ini Jeno aku sudah tahu kau pasti orangnya.” Jaemin semakin keras mencubit pinggang Jeno.

“Na sungguh ini sakit sekali. Lepaskan.” Jeno memegang erat kedua tangan Jaemin dan menjauhkannya dari pinggangnya.

Jaemin berusaha berontak. “Kenapa kau melakukan ini? Kau melakukannya karena bosan juga?” Jaemin bertanya dengan nada kesal.

“Tidak, bukan karena aku bosan, tidak sama sekali. Maafkan aku.” Jeno melepaskan pegangannya pada tangan Jaemin.

“Kapan kau membuat ini? Lalu kenapa kau membuat ini huh?” Tanya Jaemin masih dengan emosinya.

“Aku membuatnya tadi malam setelah kau tertidur pulas, aku kira kau akan terbangun karena terganggu akan ulahku ternyata tidak, kau tertidur sangat pulas. Dan alasan aku membuat itu, karena lehermu terlihat mulus dan bagus menjadikanku sangat ingin membuat maha karya di sana.” Jawab Jeno dengan cengiran di wajahnya.

“Kau ini! Kau lupa kita harus ke bandara dahulu sebelum naik pesawat? Lalu bagaimana dengan kissmark ini?” Jaemin berusaha menahan amarahnya.

“Iya bagaimana kalau sampai ada yang melihat, kalau kami berdua sih tak apa-apa, bagaimana kalau manajer hyung atau yang lainnya melihat itu? Dan juga akan banyak sekali fansite yang menunggu kita di bandara.” Haechan bertanya, ia juga sedang memikirkan bagaimana cara menutupi kissmark yang ada pada leher Jaemin.

“Pakai foundation saja seperti yang dilakukan Haechan.” Usul Mark.

“Tidak. Kalau pakai foundation akan membutuhkan waktu yang cukup lama.” Haechan menentang usulan Mark.

“Terus bagaimana aku bisa menutupi kissmark ini?” Jaemin tengah menutupi kissmark pada lehernya dengan kedua tangannya.

Tanpa Jaemin sadari, Jeno membuka hoodienya, menyisakan kaos putih polos di tubuhnya. Kemudian, Jeno memberikan hoodie tersebut kepada Jaemin.

“Ini pakai saja hoodieku.” Jeno menyodorkan hoodienya kepada Jaemin. “Maafkan aku, aku menyesal sudah membuat kissmark itu, maaf.” Jeno menundukkan kepalanya.

Jaemin menerima hoodie Jeno. “Tidak apa-apa kalau aku memakai ini?” Tanya Jaemin.

“Pakai saja, milikku milikmu juga. Maafkan aku, dan jangan marah padaku.” Jeno tersenyum.

Jaemin tersenyum, kekasihnya ini sangatlah manis. “Aku sudah memaafkanmu Jeno, dan aku tidak akan marah.”

Jaemin memakai hoodie Jeno juga memakai tudung hoodienya untuk menutupi kepalanya, Jaemin menarik tali hoodie itu sehingga hampir menutupi wajahnya.

Jeno menangkup wajah Jaemin dan sedikit menarik wajah Jaemin sehingga membuat bibir Jaemin sedikit mengerucut.

“Jenooooo.” Bibir Jaemin tambah mengerucut saat ia berbicara.

“Kau sangat menggemaskan sayang.”

“Lepaskan Jeno.” Rengek Jaemin.

“Tidak mau.” Jeno menggelengkan kepalanya.

“Permisi tuan-tuan sekalian, tolong jangan bermesraan di depan kami, saya yang melihat merasa kantuk saya hilang ketika melihat kalian berdua.” Haechan yang menatap malas kepada pasangan yang tengah berpacaran yang tak lain adalah Jeno dan juga Jaemin.

Jeno melepaskan tangannya yang tadi ada di wajah Jaemin. “Kalau iri bilang. Itulah yang aku rasakan kemarin saat di mobil menuju ke hotel.”

“Saya tidak iri, saya juga bisa melakukannya sekarang juga, hanya saja saya terlalu malas menampilkannya di depan kalian berdua.” Jawab Haechan dengan nada sombong.

“Ah itu Renjun, Chenle, Jisung dan juga manajer Hyung.” Suara Mark mengalihkan semua pandangan menuju kepada orang-orang yang Mark sebut tadi.

“Hai guys, kalian rajin sekali sudah ada di sini.” Renjun yang sudah berdiri di depan Mark dan yang lain duduk. Di sampingnya ada Chenle, Jisung dan juga manajernya.

“Kalian sangatlah lama, kami sampai pegal menunggu kalian.” Gerutu Haechan.

“Bukan kami yang lama, tapi kalian saja yang ke sini terlalu pagi.” Chenle mencibir.

“Sudah-sudah. Karena semuanya sudah berkumpul, lebih baik kita pergi ke mobil, mobil kita sudah menunggu di depan.” Kata Manajer.

Ada dua mobil yang membawa mereka menuju bandara. Jeno, Jaemin, Chenle beserta manajer di mobil yang pertama. Sedangkan Mark, Haechan, Renjun dan Jisung di mobil ke dua.

Di mobil pertama, Jeno dan Jaemin duduk bersampingan, Chenle duduk di bangku yang paling belakang, sedangkan manajer duduk di samping sopir.

“Ah tunggu sebentar, aku ada urusan.” Manajer yang sudah duduk buru-buru bangun dari duduknya.

“Urusan apa hyung?” Tanya Jeno.

“Toilet.” Ucap sang manajer, ia membuka pintu mobil dengan terburu-buru dan keluar dari mobil dengan terburu-buru juga. Rupanya sang manajer ingin membuang air kecil.

Chenle mendekatkan tubuhnya pada Jaemin. “Hyung, kau sudah berbaikan dengan Jeno Hyung?” Bisik Chenle.

“Ingin tahu saja, bukan urusanmu.” Jaemin juga ikut berbisik kepada Chenle.

“Tidak usah berpura-pura Hyung. Aku tahu kalian pasti sudah berbaikan.” Chenle berbisik lagi.

“Apa alasannya kau bisa dengan percaya diri mengatakan hal itu?” Bisik Jaemin.

“Karena kalian itu sangatlah terlihat dan mudah ditebak. Kemarin kau menjauhi Jeno Hyung, sekarang kalian dekat lagi seperti biasa, berarti kalian sudah berbaikan kan?” Bisik Chenle.

“Selamat, kau memang benar. Aku sudah berbaikan dengan Jeno.” Jaemin berbisik kepada Chenle.

“Kalian berdua sedang membicarakan apa? Sepertinya hal penting sampai-sampai aku diabaikan.” Jeno bersuara membuat Jaemin menoleh kepadanya dan Chenle yang kembali duduk.

Jaemin mendekati Jeno. “Tadi Chenle bilang kalau kita sudah berbaikan. Ia juga sudah tahu kalau kemarin aku sedang marah padamu. Dan juga aku merasa heran, kenapa Chenle bisa tahu juga soal bibirku yang terluka olehmu. Apa kau yang memberitahunya?” Jaemin sedikit berbisik kepada Jeno.

Jeno menggelengkan kepalanya. “Bukan. Aku tidak memberitahu apapun kepadanya. Bahkan kami hanya mengobrol biasa tanpa ada obrolan yang serius.” Jeno berbicara dengan nada seperti biasanya.

“Tidak ada yang memberitahuku Hyung, aku tahu sendiri, aku menebak dan tebakanku memang selalu benar, aku kan cerdas.” Ucap Chenle dengan percaya dirinya. Sedangkan Jaemin yang mendengar hanya memutarkan bola matanya malas.

“Kau tahu Na.” Jeno menoleh kepada Jaemin dan menggenggam tangan kanan Jaemin. “Aku sangat senang kita sudah kembali seperti biasanya. Jujur saja, kemarin saat kau menjauhiku, aku sangat kesepian aku tidak tahu ingin melakukan apa, aku sedih saat kau mengabaikanku apalagi saat aku memanggil namamu kau tidak mau menyahut panggilan dariku.”

Jaemin menyandarkan kepalanya pada bahu Jeno. “Jeno, maafkan aku, aku sungguh kekanakan kemarin, maaf sudah membuatmu merasa kesepian bahkan merasa sedih. Aku menyayangimu.” Jaemin mengecup sekilas garis rahang Jeno.

Jeno tersenyum, “jangan meminta maaf, kata-kata itu tidak pantas keluar dari mulut cantikmu, kau tidak bersalah sayang, jangan meminta maaf. Aku juga sangat menyayangimu, sangat dan sangat.” Jeno mencium bibir Jaemin.

Jaemin mendekati bibir Jeno dan mencium bibir itu, Jeno juga membalas ciuman yang diberikan oleh sang kekasih. Mereka berdua berciuman dengan penuh perasaan.

Sepertinya Jeno dan Jaemin lupa kalau tidak hanya mereka berdua yang berada di dalam mobil tetapi ada Chenle dan juga sang sopir.

Chenle rasanya ingin sekali menenggelamkan diri di Samudera Hindia, ia tidak kuat melihat sesuatu yang membuat seperti ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Sesuatu yang sangat manis dan juga romantis yang ia lihat bukan dari melalui layar kaca atau layar lebar melainkan yang ia lihat secara langsung.

Chenle ingin sekali berteriak saat menyaksikan Jeno dan Jaemin berciuman tepat di depan dirinya, ia sangat lemah melihat hal seperti ini.

Sungguh Chenle tidak menyangka Jeno dan Jaemin akan melakukan hal itu di tempat umum, ya walaupun hanya ada dirinya dan juga sang sopir tetapi tetap saja hal seperti itu lebih baik dilakukan saat mereka sedang berdua saja atau sedang di tempat tertutup.

Chenle memutuskan memainkan ponselnya agar mengurangi rasa salah tingkahnya. Ia juga sedang menormalkan detak jantungnya.

Sedangkan di belakang kemudi, ada sang sopir yang juga menyaksikan aksi ciuman romantis yang sedang Jeno dan Jaemin lakukan.

Meskipun berada di depan, sang sopir bisa melihat dengan jelas bagaimana kedua bibir itu saling mencium dan melumat satu sama lain dari kaca kecil yang mengarah ke belakang.

Sang sopir tidak ingin melihat lebih lama lagi aksi ciuman kedua orang yang tengah dimabuk cinta itu, ia mengalihkan kaca kecil itu ke arah lain agar tidak mengarah pada Jeno dan juga Jaemin. Sang sopir manjadi salah tingkah dibuatnya, ia mengulum bibirnya dan beralih memainkan ponselnya agar bisa mengurangi rasa salah tingkahnya.

Tak lama ada suara ketukan di jendela mobil yang sukses menghentikan kegiatan berciuman Jeno dan Jaemin. Ternyata itu sang manajer yang baru saja kembali dari toilet.

Sebelum manajernya masuk ke dalam mobil, dengan cepat Jeno dan juga Jaemin mengusap lelehan air liur yang ada pada dagu dan juga bibir masing-masing, setelah itu mereka berdua tersenyum.

Manajer masuk ke dalam mobil dan langsung duduk di bangku yang ada di samping pengemudi.

“Kau sudah selesai dengan urusanmu Hyung?” Tanya Chenle yang berusaha mencairkan suasana agar kembali seperti biasa dan juga menghilangkan rasa salah tingkahnya tadi.

“Tentu saja sudah, buktinya aku sudah ada di sini.” Jawab sang manajer. Saat menengok ke belakang, dan kembali lagi menghadap ke depan ia mengulum senyumnya.

Rupanya ia juga sempat melihat adegan romantis yang baru saja terjadi yakni aksi ciuman Jeno dan juga Jaemin.

“Yasudah jalankan mobilnya.” Perintah sang manajer kepada sopir.

Di sepanjang jalan sang manajer, sopir dan juga Chenle diam tidak berbicara dan malah tengah asik mengulum senyumnya atau menahan senyumnya, mereka bertiga tidak tahu harus membicarakan hal apa, mereka terlalu terbawa suasana.

Sedangkan Jeno dan Jaemin banyak berbicara seperti biasa, seperti tidak ada yang terjadi antara mereka.

“Kalau sudah sampai, aku ingin makan di restoran Jepang yang biasa kita datangi ya?” Jaemin berbisik kepada Jeno.

“Berdua?” Tanya Jeno. Jaemin mengangguk. “Baguslah, aku hanya ingin berduaan denganmu saja.”

“Terima kasih sayang. I love you.” Bisik Jaemin.

“My pleasure. Anything for you honey. Again, I love you more.” Jeno juga ikut berbisik.

Begitulah manisnya pasangan yang tengah dimabuk cinta, pasangan yang selalu manis dan selalu menebarkan aura positif kepada semua orang yang melihatnya.

End.

Makasih banyak udah luangin waktu buat baca cerita aku. Semoga kamu suka sama ceritanya, dan maaf kalo ada banyak typo atau banyak kalimat yg ngebuat kalian gak ngerti. Sekali lagi, makasih banyak ya, i love you.

Start-end : 09/08/2021-19/11/2021