Janji
tw // major character death , mention accident
Sebuah cerita dimana Farel dan Nina adalah sepasang kekasih namun berbeda kota. Mereka sudah memulai hubungan sejak 5 tahun yang lalu secara virtual, bertemu secara langsung pun sangatlah jarang.
Berbeda satu tahun dengan Nina, membuat Farel memilih menunda pendaftaran kuliahnya sampai tahun depan. Keputusan itu dipilih karena ia ingin satu angkatan dengan kekasihnya. Kemudian Farel memutuskan untuk bekerja di bengkel milik kakeknya, mengelola bengkel itu dan mempromosikannya.
Hingga pada suatu hari, Farel mengalami sebuah peristiwa yang naas. Saat perjalanan pulang ke rumah, motornya mengalami rem blong dan ia terperosok ke dalam jurang. Musibah yang menimpa Farel itu yang membuat dirinya harus berpulang ke sang pencipta.
Bertepatan dengan musibah yang dialami oleh Farel, hari itu Nina di sekolahnya tengah melaksanakan Ujian Sekolah, ujian terakhir yang menentukan lulus tidaknya ia dari sekolah itu.
Sebelum prosesi pemakaman dilakukan, keluarga Farel menghubungi orang tua Nina, karena saat itu ponsel milik Nina tidak aktif. Mereka memberitahukan berita duka itu kepada orang tua Nina.
Setelah mendengar berita buruk itu Ibu Nina langsung bergegas mengajak suaminya untuk datang ke rumah Farel, mereka pergi tanpa Nina karena anaknya itu tengah melaksanakan ujian di sekolah.
Sepulang dari rumah Farel, orang tua Nina tidak langsung memberitahukan berita besar itu kepada anaknya. Bahkan sebelumnya Nina menanyakan mereka habis dari mana tetapi mereka hanya menjawab pergi ke luar kota, tanpa memberitahukan yang sebenarnya.
Ayah dan Ibu Nina tidak bermaksud membohongi atau berniat jahat karena telah menutupi berita besar itu kepada anaknya. Mereka hanya ingin anaknya fokus pada ujiannya. Mereka sangat paham Nina kalau sedang mengerjakan sesuatu tidak bisa diganggu oleh hal lain, karena bisa membuat fokusnya hilang dan pekerjaan itu akan berantakan.
Bukan tega membiarkan Nina tidak mengetahui apa yang terjadi pada kekasihnya, tetapi orang tuanya berniat memberitahukan berita itu ketika dirinya sudah selesai mengerjakan ujiannya.
Dua hari kemudian akhirnya ujian itu selesai, Nina dan juga Raya—sahabat sekaligus teman sebangkunya bernapas lega. Mereka pulang ke rumah dengan Nina yang diantar pulang oleh Raya.
Di perjalanan menuju rumahnya, Nina mengaktifkan ponselnya yang selama tiga hari sengaja ia matikan. Ketika membuka sebuah aplikasi pesan, ia mendapati keluarga Farel mengirimi pesan atau membuat panggilan yang tentu saja tidak terjawab olehnya.
Ia mengabaikan itu dan beralih melihat postingan cerita salah satu keluarga Farel yang bertuliskan “Udah hari ke 3 aja lu gak ada Rel, tapi di rumah masih aja kecium wangi tubuh lu.”
Nina mengernyit bingung, ia sama sekali tak mengerti apa maksudnya. Ia beralih menekan room chat -nya bersama Farel yang sengaja ia sematkan di paling atas. Tidak ada pesan yang dikirimkan oleh kekasihnya itu sejak ia memberitahu akan menonaktifkan ponselnya untuk beberapa hari.
“Ray, masa ya Farel nggak chat gua sama sekali, padahal gua off selama tiga hari, biasanya suka spam kalo gua off tuh.”
“Sibuk kali dia, kan kata lu dia ngurus bengkel.” Jawab Raya sekenanya karena ia tengah fokus mengendarai motornya.
“Oh iya gua lupa. Gua sendiri kan ya yang bilang kalo gua mau off selama ujian, pantes aja gak ada chat sama sekali.”
“Yeu gimana sih lu.” Raya menoleh sebentar ke belakang.
Sesampainya di rumah Nina, ia mengajak masuk Raya karena temannya itu meminta air minum padanya.
Ketika sampai di ruang tamu ia melihat kedua orang tuanya tengah bersiap. Ia bertanya hendak pergi ke mana tetapi malah dijawab dengan kata maaf yang berulang kali. Nina menatap bingung kedua orang tuanya, kenapa mereka malah terlihat sangat merasa bersalah kepadanya.
Berulang kali Nina bertanya ada apa dengan kedua orang tuanya, kenapa mereka seperti itu namun mereka hanya diam dengan tatapan sedih. Nina semakin bingung kala ibunya memeluk erat tubuhnya, orang yang telah melahirkannya itu terisak dan semakin mengeratkan pelukannya.
“Ibu kenapa nangis? Yah, ibu kenapa nangis, Yah? Ini ada apa sih? Kalian berantem?”
“Nina, maafin ibu nak. Maafin kami. Ibu sama ayah kamu baru ngasih tau hari ini. Farel udah gak ada, sayang.”
Ibunya menangis semakin kencang, ia berusaha melepaskan pelukan itu dan membiarkan ibunya menatapnya.
“Ibu, ibu ngomongnya jangan sambil nangis, Nina jadi gak ngerti.” Ia mengusap air mata sang ibu.
Lalu sembari terisak ibunya memberitahukan yang sebenarnya. Menceritakan apa yang terjadi pada Farel. Ibunya juga berulang kali meminta maaf karena tidak memberitahu lebih awal berita duka ini, juga alasan baru memberitahukannya sekarang.
Awalnya Nina tampak ragu, ia melirik ke arah ayahnya dan seketika jantungnya terasa berhenti berdetak ketika sang ayah mengangguk, mengiyakan semua perkataan ibunya.
Dengan cepat Nina menggeleng, ia segera mengambil ponselnya yang tadi ia tinggalkan di samping Raya yang masih melongo melihat apa yang sedang terjadi.
Segera ia buka pesan dari orang tua Farel dan benar saja, isinya berupa pesan mengabari kalau kekasihnya itu sudah tiada.
Nina menjatuhkan ponselnya ke lantai, ia menjerit dan menendang meja kaca hingga meja itu pecah berkeping-keping. Ia meraung-raung meneriakkan nama Farel. Menendang apapun yang bisa ia tendang.
Setelah lelah melakukan itu semua, Nina terkulai lemah di pelukan Raya.
“Nina mau ke sana, ke rumah Farel. Sekarang.” Dengan suara serak penuh penekanan ia melirik orang tuanya sekilas, tidak mau melihat lebih lama.
“Ganti baju dulu ya, sayang.” Ayahnya berkata selembut mungkin.
“Gak mau! Ke sana sekarang!”
“Oke. Oke. Lepasin dulu Raya nya, biarin dia pulang.” Kali ini ibunya yang ikut berbicara.
“Ray..”
“Iyaa Na, gue ikut kok. Ayo om tante kita berangkat, gapapa belum ganti baju juga. Nanti Ray ijinnya pas udah sampe sana.”
Merekapun pergi menuju rumah Farel. Di sepanjang jalan Nina tak henti-hentinya menangis di pelukan Raya.
Tiga jam perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Farel. Rumah yang pernah Nina kunjungi itu sekarang sangat ramai, banyak orang tengah mempersiapkan acara tahlilan hari ketiga.
Setelah puas menangis di pelukan ibunda Farel, ia diajak ke sebuah pemakaman di mana kekasihnya itu beristirahat untuk yang terakhir kalinya.
Nina langsung bersimpuh di samping gundukan tanah merah yang belum mengering, ia memeluk papan kayu yang bertuliskan nama lengkap Farel.
Air mata dengan sangat leluasa turun dari mata Nina yang sudah membengkak. Dengan gemetar ia membisikkan sesuatu pada papan kayu yang setia ia peluk.
“Arel, Ina nya dateng nih. Kok kamu diem aja sih? Kamu marah karena aku baru dateng sekarang?”
Dengan setia Raya mengelusi lengan Nina, bermaksud menenangkannya. Nina memejamkan matanya, pikirannya membawa dirinya di saat ia datang ke kota ini untuk menghadiri acara kelulusan Farel.
“Makasih sayang udah dateng jauh-jauh ke sini cuma karena hari kelulusan aku. Aku janji nanti pas kelulusan kamu aku juga dateng, bahkan mau nginep semalem sebelum hari H, nanti aku ijin ke ayah kamu buat nginep di rumah kamu. Abis itu kita daftar kuliah bareng.”
Masih teringat jelas kalimat yang diucapkan oleh Farel dengan penuh senyuman dan keyakinan ketika dirinya memberi kejutan dengan datang di hari kelulusan kekasihnya. Kalimat yang terdapat janji di dalamnya diucapkan dengan mantap tanpa rasa ragu sama sekali.
Setelah satu minggu menginap di rumah Farel, akhirnya Nina pulang ke kotanya. Tetapi bukannya pulang ke rumah, ia malah pulang ke rumah Raya.
Sudah empat hari Nina di rumah Raya, sahabatnya itu tidak masalah kalau dirinya menginap di sana.
“Na, makan ya? lu udah empat hari gak makan.”
“Gua gak laper, Ray. Gua gak ada selera makan.”
“Mau sampai kapan lu gak makan?”
Nina menggeleng, “gak tau.”
“Ayo makan, Na.”
“Gua gak mau, Ray. Farel aja di sana gak makan, masa gua di sini enak-enakan makan sedangkan pacar gua di sana kelaperan.”
“Nina..”
Nina menghela napas, “pantes aja hari ke dua kita ujian, gua mimpi Farel dateng ke acara wisuda gua, di situ gua seneng banget, dia ganteng banget, kata dia 'sesuai janji aku tahun lalu, aku dateng ke wisuda kamu. Aku dateng, cuma kamu gak bisa liat aku.'
paginya gua bingung, apa maksudnya, tapi gua gak ambil pusing toh itu cuma mimpi random karena gua pikir lagi kangen aja sama Farel. Gak taunya..”
Nina tidak melanjutkan perkataannya, ia terlanjur menangis dan dengan sigap Raya membawanya kedalam pelukan hangat.
Raya menepuk-nepuk punggung Nina. “Gua mencoba ngerti apa yang lu rasain. Kadang perpisahan itu hadir di kehidupan kita, seakan dia wajib ada di setiap pertemuan, di setiap hubungan yang kita jalani.
Perpisahan yang sangat berat diterima oleh semua orang, yang membuat kita seperti kehilangan setengah jiwa dari kita. Tapi apa boleh buat, kita diwajibkan untuk menerima perpisahan itu, mau gak mau, Na.”
“Tapi gua belum sempet ngucapin salam perpisahan, dia belum dateng ke wisuda gua, gua belum daftar kuliah bareng sama dia, dia belum nepatin janji dia, Ray.”
“Iya gua tau, Na. Mau gimanapun juga udah terjadi. Butuh waktu buat lu merelakan dia, ikhlas, inget ikhlas bukan berarti lu ngelupain dia. Gua gak ngelarang lu mau nangis atau apapun itu, cuma gua minta lu makan. Gak papa hati dan pikiran lu yang sakit tapi badan lu jangan, Na. Gua gak bisa ngasih kata-kata yang nenangin lu atau semacamnya, tapi gua ada di sini buat lu, nemenin lu. Na.”
“Ray..”
“Udah, kalau mau nangis, nangis aja, nangis sepuasnya. Gua di sini, peluklu.”
Setelah dua minggu di rumah Raya, akhirnya ia pulang ke rumahnya berkat dibujuk sahabatnya itu. Walaupun sudah pulang, tapi ia masih enggan untuk berbicara dengan kedua orangtuanya. Rasa telah dibohongi masih saja ada di dalam dirinya.
Hari berganti hari telah berlalu, hingga tibalah hari yang awalnya Nina tunggu-tunggu, hari dimana kelulusannya tiba. Ia nampak sangat cantik dengan riasan yang menghiasi wajah cantiknya.
Tetapi itu tak menutupi perasaannya yang entah pergi ke mana, pikirannya melayang dan pandangannya kosong. Berulang kali Nina tersenyum palsu ketika berbicara dengan orang ataupun ketika berswa foto bersama teman-temannya.
Pandangan kosong itu seakan mencari seseorang. Dengan penuh harap ia senantiasa melihat ke arah pintu masuk, ia berharap seseorang yang ia tunggu memasuki ruangan itu. Ia menunggu dan terus menunggu sampai akhirnya acara itu selesai.
“Haha, beneran gak keliatan ya kamu.” Si cantik yang tengah menunggu itu tertawa kecil, mengasihani dirinya sendiri yang menunggu seseorang yang tidak mungkin datang.