🌄
Paginya, bukan pagi, tapi lebih tepatnya menjelang siang karena sekarang sudah jam setengah sepuluh dan Rana baru saja bangun dari tidurnya.
Rana berjalan menuruni tangga untuk pergi ke dapur, ia lapar dan ingin sarapan.
Ketika sudah sampai di dapur, ia melihat bundanya tengah memasukkan cetakan kue ke dalam oven.
“Bun, ayah mana?” Rana bertanya dengan suara khas orang bangun tidur.
Ia memutuskan untuk duduk di bangku meja makan sembari menopang dagunya dengan kedua tangannya.
Bundanya menoleh ke belakang. “Ya ampun Na, kamu udah kaya gembel aja, mandi dulu sana ih.”
“Nanti mandinya bun, pas mau berangkat latihan. Lagian Rana gembel kaya gini juga tetep ada yang suka kok.”
“Siapa? Reno?”
“Ya ngga dia juga. Eh tapi kayaknya iya deh.”
“Secara kan dia bucin kamu.”
“Mau nyangkal tapi emang bener sih, udahlah. Itu Rana tadi nanya loh, ayah kemana? Tumben pagi-pagi udah gak ada di rumah.”
“Pagi-pagi matamu pagi. Liat noh jam, udah jam berapa sekarang. Ayah kamu udah berangkat kerja dari pagi.”
“Oh gitu, Rana laper banget bun, pengen makan. Bunda udah makan?”
“Ya udah. Bisa mati kelaperan ayah sama bunda kalo nungguin kamu bangun tidur.”
“Ya salah siapa gak dibangunin?”
“Udah dibangunin, tapi kamu nya aja kebo banget.”
“Sinis amat sih bun, lagi moon come ya?”
“Hah? Apaan tuh?”
“Datang bulan elahh gitu aja gatau.”
“Ada-ada aja kamu, tapi iya sih, hari pertama jadi bawaannya kesel terus.”
“Pantesan sinis banget, yaudah Rana makan dulu ya.”
Ketika tengah asik memakan nasi goreng buatan sang bunda tercinta, ponselnya berbunyi sangat ribut, ia lupa mensilent ponselnya.
Ketika dilihat, ternyata pesan dari Reiza.
“Apasih ni anak, kurang kerjaan banget dah.”
Rana menggerutu kesal, untuk apa Reiza mengirim pesan yang sangat banyak, ponselnya kan menjadi berisik.
Rana mengabaikan sarapannya dan malah fokus pada ponselnya.
“Nasi gorengnya diabisin dulu sayang, baru main hp.”
Bundanya berjalan ke arah meja makan, lalu duduk di kursi meja makan tepat di depan Rana.
“Sebentar Bun, ada urusan nih.”
“Yaudah sini bunda suapin, aaaaa.”
Bundanya mengambil alih piring dan sendok Rana, lalu menyuapi anak semata wayangnya itu.
Mulut Rana tengah sibuk menerima suapan dari bundanya, sedangkan tangannya sibuk membalas pesan dari Reiza.