Pengganggu

(Cw // kissing, harsh words)

“Evan kita ngapain sih diem di dalem toilet gini.” Radit baru menyadari kalau ia dan Revan dari tadi sedang berada di toilet.

“Oh iya aku sampe lupa” Revan menepuk dahinya sendiri.

“Ih masih muda udah pelupa, gimana nanti pas udah tua.” Cibir Radit.

“Kan ada kamu yang selalu ngingetin aku.”

“Emang kita bakal selamanya bersama sampe tua?”

“Aku gatau kinci, tapi apapun nanti aku maunya sama kamu”

“Sama yang lain gak mau?” Tanya Radit.

Revan menggeleng, “tentu aja gak mau, aku sayang kamu dan selamanya bakal kaya gitu atau mungkin nanti bakal nambah terus rasa sayang aku ke kamu tiap harinya.”

“Mau terharu tapi tempatnya gak mendukung banget ish, masa romantis-romantisan di toilet sih.” Radit melihat sekeliling mereka dan hanya ada ruang sempit yang berisikan mereka berdua.

“Yaelah terharu dikit kek gitu, udah ngeluarin kata-kata manis itu aku.”

“Ya kalo gak terharu masa harus dipaksa sih ada-ada aja kamu.”


“Aku tuh ngajak kamu ke sini kan mau ngelanjutin yang tadi di depan.”

“Apa?”

Revan mencium sekilas bibir Radit. “Itu.”

Radit menggeleng ribut, “ini masih di sekolah, aku takut ada yang liat Evan.”

“Gak bakal ada yang liat kinci, ini toilet sepi semua orang juga lagi pada istirahat jadi gak mungkin ada yang ke sini.”

“Tapi-”

“Apa? Peraturan? Gak ada peraturan yang nyinggung soal berbuat aneh di toilet, kamu juga cuma bikin peraturan gak boleh ngerokok di toilet.”

“Katanya gak perduli sama peraturan, kok itu tau sih?” Radit berkacak pinggang.

“Cuma itu aja yang aku tau, yang lain males banget buat tau, ribet.”

“Dasar mesum otaknya.”

“Jadi, mau?”

“Kalo aku gak mau nanti kamu marah lagi kaya tadi, aku gamau liat kamu marah kaya tadi, takut.”

“Hey, aku gak bakal paksa kamu, kalo gamau it's okay, mungkin nanti. Jadi jangan dipaksa ya.”

“Nggak. Orang aku juga lagi mau.”

“Mau apa?” Tanya Revan jahil.

“Revan jangan ngeledek ya”

“Aku tanya, mau apa kamu?”

“Mau ciuman sama kamu, ayo ciuman katanya tadi mau kasarin aku ayoo.”

Revan tertawa, “kalo ada yang tau ketos bintne kaya gini gimana ya reaksinya, sekarang ganti bukan ketos galak tapi ketos mesum.”

“Revan ih.” Radit memukul bahu Revan.

Revan memiringkan kepalanya kemudian ia dekatkan wajahnya pada wajah Radit. Ketika bibir mereka hampir bersentuhan Revan menghentikan pergerakannya.

“Jadi boleh nih?” Tanya Revan.

“Alah lama kamu.” Radit langsung menangkup wajah Revan dan langsung mencium bibir kekasihnya itu.

Radit meraup bibir bawah Revan, ia menyesap bibir bawah Revan secara tergesa-gesa.

Revan menjauhkan wajahnya membuat ciuman itu terlepas yang membuat Radit kebingungan, Revan tersenyum.

“Aku sayang kamu kinci.”

“Aku juga sayang kamu Evan.”

Setelah itu Revan menarik tengkuk Radit dan langsung mencium bibir pasangan nya itu. Bibir mereka menempel cukup lama sebelum akhirnya Revan menggerakkan bibirnya untuk mengulum bibir bawah Radit secara lembut.

Revan menyesap bibir atas dan bibir bawah Radit secara bergantian. Tangan Revan semakin menarik tengkuk Radit agar ciuman mereka semakin dalam.

Tangan Revan yang satunya lagi mengusap-usap pinggang Radit, lalu tangannya itu mengeluarkan baju Radit dari dalam celana seragam. Tangan Revan menelusup masuk ke dalam baju Radit, dan mengusap punggung Radit.

Radit merasakan seperti ada sengatan listrik ketika telapak tangan hangat milik Revan mengenai permukaan kulitnya. Ia membalas ciuman Revan dan meremat rambut Revan untuk menyalurkan jutaan kenikmatan yang ia rasakan.

Berbeda dengan Radit yang melakukan gerakan secara tergesa-gesa dan masih amatir, Revan melakukannya secara perlahan dan lembut, Radit akui memang Revan lah ahlinya dalam hal berciuman.

Tung Nung nung Nung

“Panggilan kepada ketua osis ditunggu di ruang OSIS, sekali lagi panggilan kepada ketua osis ditunggu di ruang OSIS”

Pengumuman itu membuat acara berciuman Revan dan juga Radit terpaksa selesai.

“Bangsat banget” Radit mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.

“Kasar ya.”

“Kesel aku tuh, ganggu aja.”

“Bisa dilanjut nanti, udah sana ditungguin tuh.”

“Masih pengen Evan.” Radit mencebikkan bibirnya.

“Udah sana, gak baik buat orang nunggu.”

“Kok kita malah jadi kayak ketuker sih, kamu jadi nurut sama peraturan.”

“Ya gak gitu juga kinci.”

“Panggilan kepada ketua OSIS ditunggu di ruang OSIS, sekali lagi panggilan kepada ketua OSIS ditunggu di ruang OSIS segera secepatnya.”

“Alah bacot banget tai.” Radit bangkit dari duduknya, Revan juga ikut berdiri.

“Aku duluan ya Evan.” Radit hendak membuka pintu toilet tapi tidak jadi, “ada yang ketinggalan.”

Radit mencium bibir Revan sekilas, “sekali lagi deh.” Radit mencium bibir Revan lagi. “Sekali lagi deh.” Lagi, Radit mencium bibir Revan.

Revan terkekeh, ia menarik tengkuk Radit dan mencium bibir Radit selama beberapa detik lalu melepaskan ciumannya.

“Udah sana.”

“Hehe makasih Evan, aku suka.”

“Panggilan kepada ketua OSIS ditunggu di ruang OSIS segera dan secepatnya”

“Bacot banget dah. Aku duluan ya Evan dadah.”

Setelah melambai-lambaikan tangannya, Radit berlari keluar dari toilet. Meninggalkan Revan yang sepertinya masih ingin berada di toilet karena harus menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.