Kaiko & Caca
Hanya sebuah kisah pertemuan dua orang yang sudah lama tidak bertemu.
“Penampilan dari Kak Nazwa keren banget yaa, oke tanpa nunggu lama lagi marilah kita sambut penampilan berikutnya, yaitu Pak Rico dan Azka.”
Setelah MC selesai berbicara barulah kedua orang yang dipanggil itu menaiki panggung kecil. Sorak riuh dan jeritan para siswi membuat suasana menjadi sangat ramai.
Rico adalah seorang guru baru di sekolah itu, dengan tampangnya yang gagah dan juga tampan berhasil memikat perhatian para siswi yang menonton acara yang ada di sekolah tersebut.
Acara yang tadinya seru menjadi tambah seru karena para siswi terlihat sangat antusias melihat sosok yang bernama Rico itu.
Rico duduk mempersiapkan mikroponnya sementara Azka mempersiapkan gitarnya.
“Cek cek halo halo.” Rico mengecek mikroponnya dan dihadiahi jeritan para siswi yang terpesona melihat senyum manis Rico.
“Bapak ganteenggg banget”
“Pak ya ampun ganteng nya”
“Pak jangan senyum ntar hati saya yang berantakan”
“Bapak kiyowok”
“Bapak kosong delapan berapa”
Begitulah teriakan-teriakan dari para siswi saat Rico mulai menyanyikan sebuah lagu, begitu berisik tetapi juga seru. Rico hanya membalasnya dengan tersenyum yang membuat para siswi semakin histeris melihatnya.
Di tengah hebohnya para siswi yang sedang menonton Rico menyanyi di atas panggung, ada tiga orang sahabat yang malah sibuk mengobrol.
“Eh Ris itu guru baru ya? kok gua baru liat.”
“Kayaknya iya” Risa menjawab Bila tanpa mengalihkan pandangannya dari Rico yang ada di atas panggung.
“Tumben lu diem aja Ris, biasanya juga heboh kayak tadi” Kali ini Mara yang berbicara.
“Capek gua, dari tadi joget mulu, butuh asupan energi.”
“Lebay lu.” Mara menoyor kepala Risa. “Eh tapi ya, si bapak ini tuh yang kemaren kita ketemu di depan gerbang kan? Inget gak lu pada?”
“Gua kan pulang duluan Mar, yang mana?”
“Gua juga lupa Mar, yang mana sih?” Bila ikut bingung.
“Ah dasar pelupa, udah dehh intinya si bapak ini ganteng banget gua jadi naksir.” Ucap Mara sembari tersenyum memperhatikan Rico.
Kedua temannya itu hanya memutar bola matanya malas. “Maen naksir-naksir aja lu, Mar.” Risa menimpali.
“Tau nih.” Bila mendorong Mara pelan.
Balik lagi dengan Rico, guru baru itu telah membawakan beberapa lagu, semuanya menikmati, kehebohan tak pernah berhenti mengiringi merdunya nyanyian dari Rico.
Semua siswi juga tak henti-hentinya berteriak heboh, terkecuali Risa yang mendadak jadi pendiam dan hanya memperhatikan dengan seksama.
Bukannya menikmati penampilan dari Rico, Risa malah memandang guru baru itu dengan mengerutkan keningnya.
Sesi bernyanyi di atas panggung pun selesai, Rico dan juga Azka akhirnya turun dari panggung. MC pun berkata kepada para penonton bahwa Rico akan kembali bernyanyi lagi di penghujung acara.
Risa melihat Rico turun dari panggung dan berfoto bersama dengan para siswi yang mengajaknya foto bersama. Setelah itu Rico pergi ke belakang panggung.
“Mar, Bil, gua izin ke toilet ya”
“Perlu dianter gak Ris? Kebetulan gua mau jalan-jalan nih biar ga pegel.” Tawar Bila yang tengah menggerakkan kakinya ke sana kemari karena merasa pegal.
“Nggak usah.”
Setelah berkata seperti itu Risa pergi meninggalkan Mara dan juga Bila. Bukannya pergi ke toilet seperti yang dibilangnya tadi, ia malah pergi ke kantin dan membeli sebotol air dingin.
Dengan berani Risa pergi ke belakang panggung dan tak butuh waktu lama ia langsung menemukan orang yang dicarinya.
Risa menghampiri orang itu yang tengah terduduk sendiri dan sangat fokus memainkan ponselnya. Risa menyodorkan air dingin kepada orang itu.
“Me ji ku hi-”
“Bi ni yu-?eh?”
Tanpa orang itu sadari, dirinya melanjutkan perkataan Risa dan berakhir bingung. Ia menoleh secara langsung ke arah Risa yang berada di belakangnya, masih dengan bingungnya ia menerima sodoran air dingin dari Risa.
'Me ji ku hi bi ni yu' merupakan kalimat semacam mantra yang wajib diucapkan ketika Risa dan juga orang itu bertemu, entah apa manfaatnya tetapi mereka melakukannya sampai menjadi sebuah kebiasaan.
Orang itu langsung hafal dengan kalimat itu dan langsung menyadari kalau yang memberinya air dingin tadi merupakan seseorang yang ia kenal.
Orang itu ternyata Rico, guru baru yang tadi tampil mengisi acara sebuah pentas seni di sekolah. Guru tampan yang berhasil membuat para siswi berteriak heboh.
“Udah lama banget ya.” Ucap keduanya secara bersamaan lalu tertawa pada akhirnya.
“Kamu udah kelas 12 aja, Ca.”
“Lah bapak sendiri udah tua”
“Enak aja, saya masih muda ya, baru 22. Sini duduk.” Rico menarik tangan Risa sehingga membuat Risa duduk di depannya.
“Apa banget ngomong nya saya sayaan.”
“Kamu juga manggil saya bapak, padahal masih muda gini.” Beradu argumen tidak membuat Rico melepas genggaman tangannya pada tangan Risa.
“Lah kan dirimu guru di sini. Lagian ngapain jadi guru sih udah kaya juga, mana ngajar nya di sini lagi.”
“Suka suka saya lah.”
“Mau caper pasti.”
“Iya, caper sama kamu.” Tangan yang tadi menggenggam tangan Risa kini beralih menyubit pelan pipi yang lebih muda.
“Baru ketemu, udah cubit-cubit aja.” Risa mengusapi pipinya, walaupun tak sakit tapi rasanya aneh saja ada orang yang memegang mukanya secara sembarangan.
“Gak boleh?”
Rico bertanya dengan tatapan mengejek, sedangkan Risa hanya memutar bola matanya malas.
“Eh bentar deh, kita udah lama banget gak ketemu, 4 tahunan kayaknya, harusnya canggung dong atau gak cuma kontak mata doang bukan ngobrol akrab kayak gini, ini aneh siih.”
“Bocah aneh.” Lagi, Rico menyubit pipi Risa.
“Bocah bocah, udah tua nih umur 22 tahun loh, pak.” Risa meledek.
“Ngeledek kamu ya. Udah jangan panggil bapak, berasa tua banget tau.”
“Ya masa manggil Kaiko dan bapak manggil saya Caca kayak dulu sih, yakali.”
“Iya gitu aja lebih enak.”
“Saya nya yang gak enak”
“Dienakin aja. Pake cap enak.”
“Yeu masih aja demen ngejokes. Udah cocok jadi bapak-bapak dah.”
“Bapak dari anak-anak kamu sih mau.”
“Mulutnya bener-bener ya!” Risa mencubit paha Rico.
Mereka dulu sangat dekat karena rumah mereka berdekatan. Tetapi saat Rico berkuliah di luar kota, keluarganya pun ikut pindah ke rumah mereka yang kedua, yang memang dekat dengan kampusnya Rico.
“Saya nya yang gak enak pak, masa sama guru manggil nya gitu. Lagian ngapain sih ngajar di sini? Gabut banget ya? Pasti ini cuma kerja sampingan doang kan, ngaku!”
“Iya emang cuma sampingan aja, bersifat sementara karena saya cuma ngegantiin guru Inggris yang lagi sakit.”
“Sekalian caper ke para siswi kan, biar diteriakin dimintain foto, biar dibilang ganteng biar banyak fans nya.” Risa berbicara sambil mencebikkan bibirnya.
“Oh gitu, ada yang cemburu nih ceritanya.”
“Siapa? Saya? Saya gak cemburu tuh, jangan kepedean ya.”
“Selain pinter ngeledek kamu juga pinter ngeles ya. Lagian kalo mau dinyanyiin atau minta foto tinggal langsung minta aja, kapanpun semau kamu, mau sekarang juga boleh.”
“Nggak pengen sama sekali.”
“Jawab nya pinter banget ya. Yaudah panggil bapak mah pas di sekolah aja itupun kalo ada orang, kalo lagi berdua kayak gini panggil Kaiko aja, kayak dulu, gimana?”
“Iya deh Pak Rico dambaan para siswi. Jadi kita pura-pura gak kenal nih pas di sekolah?”
“Bisa dibilang gitu.” Rico mengangguk.
“Gak enak banget jadinya.”
“Gak papa, nanti pas di rumah mah kita bisa cuddle”
“Yang bener aja!”
“Emang ngerti apa itu cuddle ?”
“Ngerti lah!”
“Mau?”
“Apasih Kak! Udah sana siap-siap katanya mau tampil lagi.”
Risa bangun dari duduknya begitupun dengan Rico.
“Nggak, itu mah MC cuma strategi marketing aja biar acaranya rame yang nonton sampe akhir.”
“Tega bener tu orang boongin semua orang.” Risa berlagak seperti sedang menangis.
“Lebay banget.” Rico mengusak rambut Risa.
“Biarin.”
“Caca pulangnya sama Kaiko aja mau?”
“Mau. Kebetulan Caca tadi dianterin.”
Rico tersenyum ketika mendengar Risa menyebut dirinya sendiri dengan panggilan masa kecilnya.
“Masih belom bisa bawa motor?”
“Udah bisa dong, cuma tadi mah lagi pengen dianterin aja.”
“Nanti berangkatnya bareng Kaiko terus aja, kabar bagusnya besok lusa Kaiko sama keluarga bakal pindah lagi ke rumah yang lama, rumah di deket rumah kamu.”
“HAH SERIUS?” Risa heboh dan Rico hanya merespon dengan anggukan saja.
“Yaudah yuk pulang.” Rico menarik tangan Risa.
“Eh bentar Kaiko. Caca lupa tadi tuh ijin ke temen bilangnya mau ke toilet, nanti kalo pulang duluan mereka nyariin lagi.”
“Yaudah sana, Kaiko tunggu di sini ya.”
Mereka pun pulang bersama dan menghabiskan waktu seharian untuk berkeliling kota. Rico mengendarai motornya dengan santai. Sedangkan Risa memeluk hangat pinggang orang yang selama ini ia rindukan.
Sepanjang jalan Rico hanya terkagum melihat kotanya sudah banyak berubah. Namun ia juga sangat senang Caca-nya tidak berubah sama sekali. Mereka melepaskan kerinduan yang selama ini tertahan.
[261022]