Toilet
Radit masuk ke dalam toilet cowok dan menutup pintunya kembali. Dilihat ada Revan yang tengah menatapnya dari cermin, wajah Revan basah karena tadi ia mencuci wajahnya.
“Sepi?” Tanya Radit menggunakan gerakan bibir.
“Iyaa” jawab Revan dengan suara yang menggema. “Sini.”
Radit menuruti perintah Revan untuk mendekat.
“Mau apa?” Tanya Radit galak.
“Kinci marah-marah mulu, heran deh”
“Apasih kinci-kinci, nama gue Radit. Raditya Anjarika.” Radit melipat kedua tangannya di depan dada.
“Aku. Bukan gue.”
“Gapapa lagi marah ini tuh ih.” Tanpa sadar Radit mencebikkan bibirnya.
“Malah gemesin tau gak.” Revan mengelus rambut Radit.
“Gue-”
“Akuu.” Potong Revan.
“Iya aku, aku tuh udah berapa kali ngasih tau kamu kalo di lingkungan sekolah pake seragam yang rapi, dikancingin dimasukin, ngeyel banget sih.”
“Bawel banget kamu kinci. Yaudah sini masukin.”
“Hah? Apanya yang dimasukin?” Tanya Radit terkejut.
“Otaknya ya, ya baju aku lah, masukin cepet”
“Punya tangan kan? Pake tangannya masa dianggurin.”
“Gak mau? Yaudah.”
Ketika Revan ingin melangkahkan kakinya, tangan Radit bergerak mencegahnya.
“Iya sini aku masukin baju kamu, tapi kancingin dulu ya.”
“Iya kinci.” Revan mengacak-acak rambut Radit gemas.
Setelah selesai mengancingkan baju seragam Revan, Radit juga memasukkan baju Revan ke dalam celananya agar terlihat rapi.
Ketika Radit menunduk, Revan mengambil kesempatan untuk mengecup pucuk kepala Radit.
“Evan diem ya.” Radit mendongak menatap wajah Revan.
Revan mengecup bibir Radit sekilas membuat si empu bibir melotot.
“Bangsat” Radit mendorong pelan bahu Revan. “Ini di sekolah Van.”
“Aku perduli gitu?”
Revan menarik pinggang Radit untuk mendekat, menjadikan tubuh mereka berdua menjadi sangat dekat.
Tangan Revan yang sebelah lagi mengangkat dagu Radit, “mulutnya kasar banget, mau dikasarin huh?”
“Revan apasih lepas gak!” Tangan Radit memukul tangan Revan yang tengah memegang dagunya.
Bukannya melepaskan tangannya yang ada di dagu Radit, Revan malah mendekatkan wajahnya pada wajah Radit.
Ketika Revan sudah memiringkan kepalanya, Radit menggeleng, “jangan di sini, nanti ada yang masuk”
“Ck. Takut ada yang liat?” Tanya Revan kesal.
“Ya iyalah, aku gamau image aku sebagai ketos jadi rusak cuma gara-gara ini.” Radit juga ikut kesal.
Tanpa berkata apapun Revan langsung menarik Radit untuk masuk ke dalam bilik toilet, setelah mereka masuk Revan mengunci pintunya.
Revan mendudukkan dirinya di kloset duduk lalu mendongak menatap Radit dengan tatapan tajam.
“Ngapain diem di situ?” Revan bertanya dengan nada dingin. Membuat Radit diam tidak berkutik dan memilih untuk menunduk.
“Ngapain nunduk? Siapa yang nyuruh nunduk?”
“Kenapa diem? Punya mulut gak?” Radit terkesiap ketika mendengar bentakan dari Revan.
“Jawab!” Bentakan Revan membuat Radit takut dan meremat celananya.