You and Perfect
Dengan berbalut gaun putih panjang hingga menjuntai ke lantai dan dihiasi riasan wajah yang menambah kesan cantik yang dibawakan oleh Mika—sang pengantin. Ia berdiri dengan anggunnya ditemani oleh sang ayah yang mengenakan balutan jas berwarna hitam senada dengan celana.
Jauh di depannya ada seorang lelaki dengan gagahnya berdiri memakai setelan jas berwarna putih dan rambut yang ditata sedemikian rupa, lelaki itu yang tak lain merupakan sang calon mempelai pria, orang yang akan menikah dengan Mika.
Semua tamu yang hadir terlihat sangat terpesona dengan kecantikan Mika, tak terkecuali sang ayah yang dengan penuh senyum memandangi putri semata wayangnya.
Mika menggandeng lengan ayahnya, ia menoleh dan mendapati anggukan kecil dari sang ayah seolah-olah meyakinkan dirinya. Ia melangkahkan kakinya menuju altar pernikahan.
Baru saja satu langkah ia berjalan, secara tiba-tiba ia menghentikan langkahnya kala mendengar seseorang yang mulai memainkan piano.
Alunan melodi yang keluar dari alat musik itu membuat semua orang yang ada di sana terdiam. Mereka semakin terdiam ketika orang yang memainkan piano tersebut mulai menyanyikan sebuah lagu.
Mereka terkejut mendengar suara berat namun merdu yang keluar dari si penyanyi, begitu lembut membawakan sebuah lagu yang sangat menyentuh hati.
Sama seperti yang lain, Mika juga terkejut bahkan sangat terkejut mendengar suara itu. Ia hapal betul suara yang sangat tidak asing baginya.
Dengan terburu-buru ia arahkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Ketika pandangannya sampai di pojok kanan ruangan barulah ia menemukan apa yang ia cari.
Mika mendapati seseorang yang sangat ia kenal tengah bernyanyi dan juga memainkan piano dengan begitu tenang. Orang itu memakai kemeja putih yang digulung lengannya sampai siku dan juga jam tangan yang menambah kesan tampan yang dipancarkan.
Orang itu tak memperhatikan piano sama sekali, ia malah sibuk memandang Mika dari jauh sambil melemparkan senyum kepada sang pengantin.
Jace—penyanyi dan pemain piano yang sangat dikenali oleh Mika. Jace merupakan mantan kekasihnya yang selama 8 tahun terakhir menemaninya. Mika mengakhiri hubungan itu sejak satu bulan yang lalu, lebih tepatnya sehari setelah perjodohan Mika dengan sang calon.
Nenek dari pihak ibunya yang memaksa perjodohan ini dilakukan. Mika sama sekali tidak menerima, karena saat itu ia masih menjadi kekasih Jace dan tidak mau berpisah dengan kekasihnya itu.
Namun sekeras apapun ia menolak perjodohan itu ia tetaplah kalah, karena tidak ada seorang di keluarganya yang berani membantah permintaan dari nenek.
Mika melanjutkan langkahnya ditemani sang ayah yang setia mengiringi setiap langkahnya.
'Cause we were just kids when we fell in love Not knowing what it was I will not give you up this time
Jace menyanyikan lagu yang sangat indah berjudul Perfect yang dinyanyikan oleh Ed Sheeran. Lagu kesukaan Mika dan menjadi lagu kesukaannya juga. Kekasih cantiknya itu selalu minta dinyanyikan lagu tersebut ketika ia tengah memainkan gitar atau ketika mereka sedang bersantai.
Ketika di tengah perjalanan, Mika kembali menghentikan langkahnya. Pandangannya yang semula menatap kosong ke depan berganti menjadi ke arah Jace yang sedang tersenyum.
But darling, just kiss me slow Your heart is all I own And in your eyes, you're holding mine
Air mata Mika turun tanpa diminta, pertahanannya roboh seketika kala mendengar lirik yang paling ia suka di lagu itu. Ia berusaha sekuat mungkin menahan air matanya sejak pertama kali melihat Jace di acara pernikahannya, membawakan lagu kesukaannya dengan senyum teduh khas yang selalu menghiasi bibir itu.
Well, I found a woman, stronger than anyone I know
Sang ayah menoleh ketika menyadari putrinya yang tersenyum namun kedua mata cantik itu tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Hatinya ikut teriris dibuatnya. Ia sangat mengerti perasaan anaknya sekarang, namun sayangnya ia juga tak bisa melakukan apapun.
Tanpa disadari ia juga ikut menitikkan air mata. Ketika menyadari itu ia langsung menghapus air mata dan menarik nafas lalu menepuk-nepuk tangan anak cantiknya untuk segera melanjutkan langkahnya.
Tak lama sampailah Mika di hadapan orang yang sebentar lagi akan sah menjadi suaminya. Senyuman lebar yang semula terukir di bibir calon suaminya itu kini hilang ketika menyadari air mata yang terus mengalir dari pipinya.
Ia beralih menatap Jace saat mendengar suara yang mantan kekasihnya keluarkan terdengar bergetar.
Baby, I'm dancing in the dark With you between my arms Barefoot on the grass Listening to our favorite song When I saw you in that dress, looking so beautiful I don't deserve this
Bisa Mika lihat mata Jace yang awalnya memberikan tatapan teduh kepadanya kini meneteskan air mata ketika menyanyikan bagian itu. I don't deserve this. Ia menggeleng, tak ada yang pantas mendapatkan dirinya selain kekasih hatinya—Jace.
“Now I know I have met an angel in person. And she looks perfect. I don't deserve this.”
Mika kembali menolehkan kepalanya ketika mendengar calon suaminya ikut menyanyikan lirik tersebut, ia juga terkejut ketika calon suaminya itu menekankan kalimat 'I don't deserve this'. Dirinya sangat tahu pasti kalau calon suaminya itu menyadarinya yang berkali-kali menoleh ke arah Jace.
You look perfect tonight
Semuanya bertepuk tangan dengan meriah, mereka sangat kagum dengan penampilan dari Jace. Ada beberapa yang masih terbawa suasana dari lagu itu ada pula yang sampai menangis.
Sementara yang diberi tepuk tangan malah membalikkan badannya membelakangi semua orang, ia berulang kali menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk mengontrol kesedihannya.
Detik demi detik, menit demi menit telah berlalu. Pembacaan janji suci dan sederet prosesi pernikahan telah selesai dilaksanakan, kini Mika sudah sah menjadi istri dari suaminya.
Namun bukan berarti dirinya menerima dengan ikhlas. Ia tetap tersenyum demi menghargai para tamu yang datang. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh lagi.
Mika duduk di salah satu bangku yang ada di sana, pandangannya kosong menatap lurus orang-orang yang berlalu lalang di depannya. Sedangkan suaminya tengah sibuk mengobrol dengan rekan kerja yang hadir.
“Mika..” Panggilan itu berhasil menyadarkan Mika dari lamunannya, ia mendongak menatap orang yang telah memanggilnya.
“Mika, selamat ya untuk pernikahan kamu. Aku harap kamu selalu bahagia. Aku datang ke sini dengan cara memohon-mohon kepada nenekmu agar bisa mendapatkan izinnya.
Susah memang tapi itu aku lakukan untuk memenuhi keinginanmu, dinyanyikan lagu perfect di hari pernikahanmu yang walaupun bukan aku yang menikah denganmu. Akhirnya aku bisa mewujudkan impian kamu, Mika.”
Mika menggeleng ribut. Ia kembali menangis saat mendengar perkataan Jace. Memang impiannya itu Jace menyanyikan lagu Perfect di hari pernikahannya, tetapi bukan ini yang dirinya mau.
Mika hanya mau Jace yang menjadi pengantin pria lalu setelah janji suci diucapkan barulah lagu itu dinyanyikan suaminya yang tak lain Jace itu sendiri.
“Oh iya. Aku tidak akan lama di sini. Aku sudah ditunggu pesawat. Aku belum memberitahu ini padamu. Aku akan pindah ke Swiss dan menetap di sana. Bilang saja aku jahat, aku tidak mengajakmu pergi ke sana padahal itu impian kamu. Maaf tidak bisa mewujudkan keinginan kamu yang itu. Aku pergi dulu ya? Baik-baik di sini.” Jace mengusak rambut Mika pelan.
Mika hanya bisa menatap punggung orang tersayangnya yang berjalan menjauhi dirinya, meninggalkan dirinya sendirian di tengah keramaian acara pernikahannya.
Jika boleh memilih, Mika akan lebih memilih tidak lahir ke dunia ini daripada harus menerima kenyataan bahwa ia menyakiti tiga orang sekaligus, Jace dan suaminya begitupun juga dengan dirinya sendiri.
Bagaimana padi akan tumbuh sampai bisa dipanen jika sang petani saja tidak merawat dan meninggalkan padi tersebut.