lestroberiii


sebenernya ini gak jelas, tapi ya gitu deh ya semoga tidak membingungkan kamu dan semoga tidak cringe wkwkwk.


halo cecill. it's your bday right? happy birthday my best friend. tahun ini ulang tahun yang ke 18 kan? wah udah lumayan tua juga ya wkwk. gapapa tua yang penting punya jiwa yang muda kan eaa. makin kerasa berat gak sih hidup setelah lulus dari smk? padahal baru aja mau memulai the real life yang beneran real tapi rasanya kayak berat gitu.

18 tahun tuh bukan waktu yang sebentar. kalo ibarat pohon beringin mah udah segede gaban dan banyak penunggunya. dan kamu bisa bertahan sampe sekarang itu tuh hal yang perlu diacungi jempol banget. kamu keren udah ngelewatin masa-masa sulit kamu, ya walaupun nanti ada masa-masa sulit yang lain hehe.

banyak banget pencapaian yang udah kamu dapat selama 18 tahun ini, dalam bidang apapun itu. aku bangga sama kamu yang udah keren banget bisa bertahan sampe detik ini. yang bisa ngelewatin semuanya sendiri, bangga banget. mungkin bangganya aku gak seberapa dibanding sama bangga nya orang terdekat kamu. tapi di sini aku sebagai orang yang ngaku-ngaku temen deket kamu mau bilang aja kalo aku bangga banget sama kamu.

maaf kalo selama tiga tahun terakhir kita temenan aku pernah ada salah ke kamu, baik yang disengaja ataupun yang nggak. maaf kalo ada kata, omongan atau becandaan aku yang gak enakin hati kamu, maaf kalo suka ngejokes yang gatau waktu dan sikon. maaf selama ini aku suka ngerepotin kamu dalam hal apapun, bahkan aku ngerasa setelah lulus sekolah pun kamu masih direpotin sama aku. aku juga minta maaf gak bisa selalu bantu kamu, gak kayak kamu ke aku. aku mau minta maaf juga buat semua orang yang udah jahat ke kamu, minta maaf karena dunia mungkin udah jahat ke kamu.

tolong terima semua maaf itu ya sill. tolong untuk selalu berpikiran positif, untuk selalu makan walau sesibuk apapun, untuk selalu minum, untuk selalu jaga kesehatan dan hati yang senang, untuk selalu baik ke diri kamu sendiri. tolong jangan jahat ke diri kamu sendiri ya? aku tau kamu gak mungkin gitu. tolong kebiasaan mikirin orang lain nya dikurangin, yang paling penting kamu dulu baru orang lain. tolong kalau ada keluhan atau lagi capek kamu bisa ceritain ke orang yang kamu percaya, tolong jangan disimpen sendiri.

makasih banyak kalo kamu udah atau mau ngelakuin itu semua. makasih ya udah mau bertahan sampe saat ini. makasih udah jadi hebat dan kuat. makasih udah lahir ke dunia ini dan jadi temen baik aku. makasih udah mau jadi temen aku, selalu bantu aku, selalu baik ke aku, ke semua orang, makasih banyak untuk segala hal yang udah kamu lakuin selama ini. makasih udah jadi orang baik. makasih udah jadi cecill yang aku kenal. makasih buat semua hal ya sil.

ini panjang banget, kamu capek gak sih bacanya? semoga nggak deh hehe. ini aku kalo mau nyampein sesuatu emang suka bertele-tele, jadinya sepanjang ini, mana ke mana mana lagi ngomong nya.

tujuannya tuh mau ngucapin selamat ulang tahun eh malah ke mana mana. selamat ulang tahun ya cill. semoga panjang umur, sehat dan seneng selalu, apapun urusan nya dipermudah dan dilancarkan, dikelilingi orang baik yang pure baik semata-mata cuma mau baik ke kamu, semoga rezeki nya lancar terus dan cepet dapet kerjaan yang sesuai sama apa yang kamu mau. semoga hal baik semuanya datang ke kamu ya. aku berdoa yang terbaik untuk kamu, aku yakin dikabulin soalnya didukung dua server haha. udah segitu aja, intinya doa yang baik baik aja yaa.

sekali lagi selamat ulang tahun temen baiknya eri. kamu harus seneng hari ini karena ini hari baik. hari baik karena 18 tahun yang lalu lahirnya orang baik kayak kamu. thanks udah baca sampai sini, maaf kalo ada typo atau apapun kesalahan lain. i love u as my best best friend cecillia maharani.


untuk kuenya versi online aja ya, nanti kalo yang asli mah pas dah punya duit sendiri, semoga taun depan atau bulan depan juga gapapa.

ini kue nya

Better

Di hadapkan dengan kesibukan dan banyaknya tumpukan berkas yang harus ditandatangani, membuat Haven Algara memijat pelan keningnya. Pria berumur 34 tahun itu merupakan seorang CEO dari perusahaan besar bernama Gara Crop yang bergerak di bidang elektronik.

Menjadi seseorang dengan jabatan yang tinggi di perusahaan tidak membuat Haven berleha-leha dan menikmati gaji yang cukup besar, justru ia kerap sekali disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Mempunyai tanggung jawab yang besar membuat dirinya bekerja ekstra keras sampai sering kali ia melewatkan waktu makannya.

Di pertengahan hari Haven tengah duduk di bangku kerjanya dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Jari yang tengah mengetik pada keyboard laptop itu terhenti ketika mendengar ketukan pintu.

Setelah diberi ijin untuk masuk oleh Haven, orang yang mengetuk pintu itupun memasuki ruangan pria gemini dengan langkah kecilnya. Ketika melihat orang yang tengah berjalan ke arahnya, Haven memundurkan kursinya agar menjauh sedikit dari meja kerjanya. Ia beralih melebarkan tangannya dan dengan sigap orang itu memeluknya.

“Ada apa, sayang? Udah makan belum?” Haven menepuk-nepuk punggung orang itu.

“Udah ayah, Abel udah makan. Ayah udah?”

Yazrin Nabela Algara atau biasa dipanggil dengan Abel, perempuan yang hendak menginjak usia delapan belas tahun itu merupakan anak satu-satunya dan juga anak kesayangan Haven Algara. Memiliki paras cantik dengan rambut hitam panjang yang selalu terurai dan juga pipi berisi yang terlihat menggemaskan, tak membuat dirinya menjadi orang yang sombong. Abel dikenal sebagai anak yang ramah dan juga sopan. Bahkan ketika berkunjung ke kantor ayahnya, ia suka menyapa para pegawai yang ada di sana meskipun ayahnya mempunyai jabatan tertinggi sekalipun.

“Belum. Nanti kalau udah laper ayah makan. Mau selesaiin dua berkas lagi.”

“Ayah ini suka banget ngingetin aku buat makan, sedangkan ayah sendiri suka ngelewatin waktu makan.”

Apa yang dikatakan oleh Abel benar adanya. Haven sering sekali mengingatkan putri kesayangannya untuk tidak melewatkan waktu makan, namun di tempat kerja ia malah sering mengabaikan waktu makannya sendiri.

“Ayah sibuk Abel. Banyak kerjaan yang belum terselesaikan. Urusan makan yah belakangan, yang penting makan kamu teratur.”

“Gak bisa gitu dong, yah. Kerjaan bisa kapan aja, ayah punya asisten punya sekretaris yang bisa kerjain kerjaan ayah. Kesehatan ayah yang harus diutamakan bukan kerjaan.” Abel hendak melepaskan pelukannya sebelum akhirnya kembali ditarik oleh ayahnya.

“Iya iya bawel ya Abel-nya ayah ini. Udah diem, ayah masih mau peluk Abel.”

“Ayah, Abel mau ngomong sesuatu sama ayah. Tapi ayah janji dulu jangan marah.”

“Iya cantiknya ayah. Mau ngomong apa hmm?”

“Mobil ayah ilang.”

“Apa?”

Haven melepaskan pelukannya pada Abel. Anaknya itu memutuskan untuk kembali berdiri dan sedikit menjauh darinya.

“Tuh kan ayah marah.” Abel menunduk dan semakin berjalan ke belakang.

“Enggak, sayang. Sini, ayah gak marah kok.” Haven menarik pelan tangan anaknya hingga kembali mendekat.

Ia pegang kedua tangan anaknya itu, “kenapa bisa ilang mobilnya?” Tanyanya lembut.

“Kemarin lusa Sam pinjem mobil itu buat jemput ibunya di bandara. Tapi pas sampai di jalan yang sepi mobilnya ada yang begal. Ayah jangan marah. Abel tau itu mobil kesukaan ayah.”

“Hey hey, kalau lagi ngomong tatap mata ayah. Udah gak apa-apa, gausah takut. Jangan dipikirin, ayah bisa beli lagi, yang penting kamu selamat.


Hanya sebuah kisah pertemuan dua orang yang sudah lama tidak bertemu.


“Penampilan dari Kak Nazwa keren banget yaa, oke tanpa nunggu lama lagi marilah kita sambut penampilan berikutnya, yaitu Pak Rico dan Azka.”

Setelah MC selesai berbicara barulah kedua orang yang dipanggil itu menaiki panggung kecil. Sorak riuh dan jeritan para siswi membuat suasana menjadi sangat ramai.

Rico adalah seorang guru baru di sekolah itu, dengan tampangnya yang gagah dan juga tampan berhasil memikat perhatian para siswi yang menonton acara yang ada di sekolah tersebut.

Acara yang tadinya seru menjadi tambah seru karena para siswi terlihat sangat antusias melihat sosok yang bernama Rico itu.

Rico duduk mempersiapkan mikroponnya sementara Azka mempersiapkan gitarnya.

“Cek cek halo halo.” Rico mengecek mikroponnya dan dihadiahi jeritan para siswi yang terpesona melihat senyum manis Rico.

“Bapak ganteenggg banget”

“Pak ya ampun ganteng nya”

“Pak jangan senyum ntar hati saya yang berantakan”

“Bapak kiyowok”

“Bapak kosong delapan berapa”

Begitulah teriakan-teriakan dari para siswi saat Rico mulai menyanyikan sebuah lagu, begitu berisik tetapi juga seru. Rico hanya membalasnya dengan tersenyum yang membuat para siswi semakin histeris melihatnya.

Di tengah hebohnya para siswi yang sedang menonton Rico menyanyi di atas panggung, ada tiga orang sahabat yang malah sibuk mengobrol.

“Eh Ris itu guru baru ya? kok gua baru liat.”

“Kayaknya iya” Risa menjawab Bila tanpa mengalihkan pandangannya dari Rico yang ada di atas panggung.

“Tumben lu diem aja Ris, biasanya juga heboh kayak tadi” Kali ini Mara yang berbicara.

“Capek gua, dari tadi joget mulu, butuh asupan energi.”

“Lebay lu.” Mara menoyor kepala Risa. “Eh tapi ya, si bapak ini tuh yang kemaren kita ketemu di depan gerbang kan? Inget gak lu pada?”

“Gua kan pulang duluan Mar, yang mana?”

“Gua juga lupa Mar, yang mana sih?” Bila ikut bingung.

“Ah dasar pelupa, udah dehh intinya si bapak ini ganteng banget gua jadi naksir.” Ucap Mara sembari tersenyum memperhatikan Rico.

Kedua temannya itu hanya memutar bola matanya malas. “Maen naksir-naksir aja lu, Mar.” Risa menimpali.

“Tau nih.” Bila mendorong Mara pelan.

Balik lagi dengan Rico, guru baru itu telah membawakan beberapa lagu, semuanya menikmati, kehebohan tak pernah berhenti mengiringi merdunya nyanyian dari Rico.

Semua siswi juga tak henti-hentinya berteriak heboh, terkecuali Risa yang mendadak jadi pendiam dan hanya memperhatikan dengan seksama.

Bukannya menikmati penampilan dari Rico, Risa malah memandang guru baru itu dengan mengerutkan keningnya.


Sesi bernyanyi di atas panggung pun selesai, Rico dan juga Azka akhirnya turun dari panggung. MC pun berkata kepada para penonton bahwa Rico akan kembali bernyanyi lagi di penghujung acara.

Risa melihat Rico turun dari panggung dan berfoto bersama dengan para siswi yang mengajaknya foto bersama. Setelah itu Rico pergi ke belakang panggung.

“Mar, Bil, gua izin ke toilet ya”

“Perlu dianter gak Ris? Kebetulan gua mau jalan-jalan nih biar ga pegel.” Tawar Bila yang tengah menggerakkan kakinya ke sana kemari karena merasa pegal.

“Nggak usah.”

Setelah berkata seperti itu Risa pergi meninggalkan Mara dan juga Bila. Bukannya pergi ke toilet seperti yang dibilangnya tadi, ia malah pergi ke kantin dan membeli sebotol air dingin.

Dengan berani Risa pergi ke belakang panggung dan tak butuh waktu lama ia langsung menemukan orang yang dicarinya.

Risa menghampiri orang itu yang tengah terduduk sendiri dan sangat fokus memainkan ponselnya. Risa menyodorkan air dingin kepada orang itu.

“Me ji ku hi-”

“Bi ni yu-?eh?”

Tanpa orang itu sadari, dirinya melanjutkan perkataan Risa dan berakhir bingung. Ia menoleh secara langsung ke arah Risa yang berada di belakangnya, masih dengan bingungnya ia menerima sodoran air dingin dari Risa.

'Me ji ku hi bi ni yu' merupakan kalimat semacam mantra yang wajib diucapkan ketika Risa dan juga orang itu bertemu, entah apa manfaatnya tetapi mereka melakukannya sampai menjadi sebuah kebiasaan.

Orang itu langsung hafal dengan kalimat itu dan langsung menyadari kalau yang memberinya air dingin tadi merupakan seseorang yang ia kenal.

Orang itu ternyata Rico, guru baru yang tadi tampil mengisi acara sebuah pentas seni di sekolah. Guru tampan yang berhasil membuat para siswi berteriak heboh.

“Udah lama banget ya.” Ucap keduanya secara bersamaan lalu tertawa pada akhirnya.

“Kamu udah kelas 12 aja, Ca.”

“Lah bapak sendiri udah tua”

“Enak aja, saya masih muda ya, baru 22. Sini duduk.” Rico menarik tangan Risa sehingga membuat Risa duduk di depannya.

“Apa banget ngomong nya saya sayaan.”

“Kamu juga manggil saya bapak, padahal masih muda gini.” Beradu argumen tidak membuat Rico melepas genggaman tangannya pada tangan Risa.

“Lah kan dirimu guru di sini. Lagian ngapain jadi guru sih udah kaya juga, mana ngajar nya di sini lagi.”

“Suka suka saya lah.”

“Mau caper pasti.”

“Iya, caper sama kamu.” Tangan yang tadi menggenggam tangan Risa kini beralih menyubit pelan pipi yang lebih muda.

“Baru ketemu, udah cubit-cubit aja.” Risa mengusapi pipinya, walaupun tak sakit tapi rasanya aneh saja ada orang yang memegang mukanya secara sembarangan.

“Gak boleh?”

Rico bertanya dengan tatapan mengejek, sedangkan Risa hanya memutar bola matanya malas.

“Eh bentar deh, kita udah lama banget gak ketemu, 4 tahunan kayaknya, harusnya canggung dong atau gak cuma kontak mata doang bukan ngobrol akrab kayak gini, ini aneh siih.”

“Bocah aneh.” Lagi, Rico menyubit pipi Risa.

“Bocah bocah, udah tua nih umur 22 tahun loh, pak.” Risa meledek.

“Ngeledek kamu ya. Udah jangan panggil bapak, berasa tua banget tau.”

“Ya masa manggil Kaiko dan bapak manggil saya Caca kayak dulu sih, yakali.”

“Iya gitu aja lebih enak.”

“Saya nya yang gak enak”

“Dienakin aja. Pake cap enak.”

“Yeu masih aja demen ngejokes. Udah cocok jadi bapak-bapak dah.”

“Bapak dari anak-anak kamu sih mau.”

“Mulutnya bener-bener ya!” Risa mencubit paha Rico.

Mereka dulu sangat dekat karena rumah mereka berdekatan. Tetapi saat Rico berkuliah di luar kota, keluarganya pun ikut pindah ke rumah mereka yang kedua, yang memang dekat dengan kampusnya Rico.

“Saya nya yang gak enak pak, masa sama guru manggil nya gitu. Lagian ngapain sih ngajar di sini? Gabut banget ya? Pasti ini cuma kerja sampingan doang kan, ngaku!”

“Iya emang cuma sampingan aja, bersifat sementara karena saya cuma ngegantiin guru Inggris yang lagi sakit.”

“Sekalian caper ke para siswi kan, biar diteriakin dimintain foto, biar dibilang ganteng biar banyak fans nya.” Risa berbicara sambil mencebikkan bibirnya.

“Oh gitu, ada yang cemburu nih ceritanya.”

“Siapa? Saya? Saya gak cemburu tuh, jangan kepedean ya.”

“Selain pinter ngeledek kamu juga pinter ngeles ya. Lagian kalo mau dinyanyiin atau minta foto tinggal langsung minta aja, kapanpun semau kamu, mau sekarang juga boleh.”

“Nggak pengen sama sekali.”

“Jawab nya pinter banget ya. Yaudah panggil bapak mah pas di sekolah aja itupun kalo ada orang, kalo lagi berdua kayak gini panggil Kaiko aja, kayak dulu, gimana?”

“Iya deh Pak Rico dambaan para siswi. Jadi kita pura-pura gak kenal nih pas di sekolah?”

“Bisa dibilang gitu.” Rico mengangguk.

“Gak enak banget jadinya.”

“Gak papa, nanti pas di rumah mah kita bisa cuddle”

“Yang bener aja!”

“Emang ngerti apa itu cuddle ?”

“Ngerti lah!”

“Mau?”

“Apasih Kak! Udah sana siap-siap katanya mau tampil lagi.”

Risa bangun dari duduknya begitupun dengan Rico.

“Nggak, itu mah MC cuma strategi marketing aja biar acaranya rame yang nonton sampe akhir.”

“Tega bener tu orang boongin semua orang.” Risa berlagak seperti sedang menangis.

“Lebay banget.” Rico mengusak rambut Risa.

“Biarin.”

“Caca pulangnya sama Kaiko aja mau?”

“Mau. Kebetulan Caca tadi dianterin.”

Rico tersenyum ketika mendengar Risa menyebut dirinya sendiri dengan panggilan masa kecilnya.

“Masih belom bisa bawa motor?”

“Udah bisa dong, cuma tadi mah lagi pengen dianterin aja.”

“Nanti berangkatnya bareng Kaiko terus aja, kabar bagusnya besok lusa Kaiko sama keluarga bakal pindah lagi ke rumah yang lama, rumah di deket rumah kamu.”

“HAH SERIUS?” Risa heboh dan Rico hanya merespon dengan anggukan saja.

“Yaudah yuk pulang.” Rico menarik tangan Risa.

“Eh bentar Kaiko. Caca lupa tadi tuh ijin ke temen bilangnya mau ke toilet, nanti kalo pulang duluan mereka nyariin lagi.”

“Yaudah sana, Kaiko tunggu di sini ya.”

Mereka pun pulang bersama dan menghabiskan waktu seharian untuk berkeliling kota. Rico mengendarai motornya dengan santai. Sedangkan Risa memeluk hangat pinggang orang yang selama ini ia rindukan.

Sepanjang jalan Rico hanya terkagum melihat kotanya sudah banyak berubah. Namun ia juga sangat senang Caca-nya tidak berubah sama sekali. Mereka melepaskan kerinduan yang selama ini tertahan.

[261022]


tw // major character death , mention accident


Sebuah cerita dimana Farel dan Nina adalah sepasang kekasih namun berbeda kota. Mereka sudah memulai hubungan sejak 5 tahun yang lalu secara virtual, bertemu secara langsung pun sangatlah jarang.

Berbeda satu tahun dengan Nina, membuat Farel memilih menunda pendaftaran kuliahnya sampai tahun depan. Keputusan itu dipilih karena ia ingin satu angkatan dengan kekasihnya. Kemudian Farel memutuskan untuk bekerja di bengkel milik kakeknya, mengelola bengkel itu dan mempromosikannya.

Hingga pada suatu hari, Farel mengalami sebuah peristiwa yang naas. Saat perjalanan pulang ke rumah, motornya mengalami rem blong dan ia terperosok ke dalam jurang. Musibah yang menimpa Farel itu yang membuat dirinya harus berpulang ke sang pencipta.

Bertepatan dengan musibah yang dialami oleh Farel, hari itu Nina di sekolahnya tengah melaksanakan Ujian Sekolah, ujian terakhir yang menentukan lulus tidaknya ia dari sekolah itu.

Sebelum prosesi pemakaman dilakukan, keluarga Farel menghubungi orang tua Nina, karena saat itu ponsel milik Nina tidak aktif. Mereka memberitahukan berita duka itu kepada orang tua Nina.

Setelah mendengar berita buruk itu Ibu Nina langsung bergegas mengajak suaminya untuk datang ke rumah Farel, mereka pergi tanpa Nina karena anaknya itu tengah melaksanakan ujian di sekolah.

Sepulang dari rumah Farel, orang tua Nina tidak langsung memberitahukan berita besar itu kepada anaknya. Bahkan sebelumnya Nina menanyakan mereka habis dari mana tetapi mereka hanya menjawab pergi ke luar kota, tanpa memberitahukan yang sebenarnya.

Ayah dan Ibu Nina tidak bermaksud membohongi atau berniat jahat karena telah menutupi berita besar itu kepada anaknya. Mereka hanya ingin anaknya fokus pada ujiannya. Mereka sangat paham Nina kalau sedang mengerjakan sesuatu tidak bisa diganggu oleh hal lain, karena bisa membuat fokusnya hilang dan pekerjaan itu akan berantakan.

Bukan tega membiarkan Nina tidak mengetahui apa yang terjadi pada kekasihnya, tetapi orang tuanya berniat memberitahukan berita itu ketika dirinya sudah selesai mengerjakan ujiannya.


Dua hari kemudian akhirnya ujian itu selesai, Nina dan juga Raya—sahabat sekaligus teman sebangkunya bernapas lega. Mereka pulang ke rumah dengan Nina yang diantar pulang oleh Raya.

Di perjalanan menuju rumahnya, Nina mengaktifkan ponselnya yang selama tiga hari sengaja ia matikan. Ketika membuka sebuah aplikasi pesan, ia mendapati keluarga Farel mengirimi pesan atau membuat panggilan yang tentu saja tidak terjawab olehnya.

Ia mengabaikan itu dan beralih melihat postingan cerita salah satu keluarga Farel yang bertuliskan “Udah hari ke 3 aja lu gak ada Rel, tapi di rumah masih aja kecium wangi tubuh lu.”

Nina mengernyit bingung, ia sama sekali tak mengerti apa maksudnya. Ia beralih menekan room chat -nya bersama Farel yang sengaja ia sematkan di paling atas. Tidak ada pesan yang dikirimkan oleh kekasihnya itu sejak ia memberitahu akan menonaktifkan ponselnya untuk beberapa hari.

“Ray, masa ya Farel nggak chat gua sama sekali, padahal gua off selama tiga hari, biasanya suka spam kalo gua off tuh.”

“Sibuk kali dia, kan kata lu dia ngurus bengkel.” Jawab Raya sekenanya karena ia tengah fokus mengendarai motornya.

“Oh iya gua lupa. Gua sendiri kan ya yang bilang kalo gua mau off selama ujian, pantes aja gak ada chat sama sekali.”

“Yeu gimana sih lu.” Raya menoleh sebentar ke belakang.

Sesampainya di rumah Nina, ia mengajak masuk Raya karena temannya itu meminta air minum padanya.

Ketika sampai di ruang tamu ia melihat kedua orang tuanya tengah bersiap. Ia bertanya hendak pergi ke mana tetapi malah dijawab dengan kata maaf yang berulang kali. Nina menatap bingung kedua orang tuanya, kenapa mereka malah terlihat sangat merasa bersalah kepadanya.

Berulang kali Nina bertanya ada apa dengan kedua orang tuanya, kenapa mereka seperti itu namun mereka hanya diam dengan tatapan sedih. Nina semakin bingung kala ibunya memeluk erat tubuhnya, orang yang telah melahirkannya itu terisak dan semakin mengeratkan pelukannya.

“Ibu kenapa nangis? Yah, ibu kenapa nangis, Yah? Ini ada apa sih? Kalian berantem?”

“Nina, maafin ibu nak. Maafin kami. Ibu sama ayah kamu baru ngasih tau hari ini. Farel udah gak ada, sayang.”

Ibunya menangis semakin kencang, ia berusaha melepaskan pelukan itu dan membiarkan ibunya menatapnya.

“Ibu, ibu ngomongnya jangan sambil nangis, Nina jadi gak ngerti.” Ia mengusap air mata sang ibu.

Lalu sembari terisak ibunya memberitahukan yang sebenarnya. Menceritakan apa yang terjadi pada Farel. Ibunya juga berulang kali meminta maaf karena tidak memberitahu lebih awal berita duka ini, juga alasan baru memberitahukannya sekarang.

Awalnya Nina tampak ragu, ia melirik ke arah ayahnya dan seketika jantungnya terasa berhenti berdetak ketika sang ayah mengangguk, mengiyakan semua perkataan ibunya.

Dengan cepat Nina menggeleng, ia segera mengambil ponselnya yang tadi ia tinggalkan di samping Raya yang masih melongo melihat apa yang sedang terjadi.

Segera ia buka pesan dari orang tua Farel dan benar saja, isinya berupa pesan mengabari kalau kekasihnya itu sudah tiada.

Nina menjatuhkan ponselnya ke lantai, ia menjerit dan menendang meja kaca hingga meja itu pecah berkeping-keping. Ia meraung-raung meneriakkan nama Farel. Menendang apapun yang bisa ia tendang.

Setelah lelah melakukan itu semua, Nina terkulai lemah di pelukan Raya.

“Nina mau ke sana, ke rumah Farel. Sekarang.” Dengan suara serak penuh penekanan ia melirik orang tuanya sekilas, tidak mau melihat lebih lama.

“Ganti baju dulu ya, sayang.” Ayahnya berkata selembut mungkin.

“Gak mau! Ke sana sekarang!”

“Oke. Oke. Lepasin dulu Raya nya, biarin dia pulang.” Kali ini ibunya yang ikut berbicara.

“Ray..”

“Iyaa Na, gue ikut kok. Ayo om tante kita berangkat, gapapa belum ganti baju juga. Nanti Ray ijinnya pas udah sampe sana.”

Merekapun pergi menuju rumah Farel. Di sepanjang jalan Nina tak henti-hentinya menangis di pelukan Raya.

Tiga jam perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Farel. Rumah yang pernah Nina kunjungi itu sekarang sangat ramai, banyak orang tengah mempersiapkan acara tahlilan hari ketiga.

Setelah puas menangis di pelukan ibunda Farel, ia diajak ke sebuah pemakaman di mana kekasihnya itu beristirahat untuk yang terakhir kalinya.

Nina langsung bersimpuh di samping gundukan tanah merah yang belum mengering, ia memeluk papan kayu yang bertuliskan nama lengkap Farel.

Air mata dengan sangat leluasa turun dari mata Nina yang sudah membengkak. Dengan gemetar ia membisikkan sesuatu pada papan kayu yang setia ia peluk.

“Arel, Ina nya dateng nih. Kok kamu diem aja sih? Kamu marah karena aku baru dateng sekarang?”

Dengan setia Raya mengelusi lengan Nina, bermaksud menenangkannya. Nina memejamkan matanya, pikirannya membawa dirinya di saat ia datang ke kota ini untuk menghadiri acara kelulusan Farel.

“Makasih sayang udah dateng jauh-jauh ke sini cuma karena hari kelulusan aku. Aku janji nanti pas kelulusan kamu aku juga dateng, bahkan mau nginep semalem sebelum hari H, nanti aku ijin ke ayah kamu buat nginep di rumah kamu. Abis itu kita daftar kuliah bareng.”

Masih teringat jelas kalimat yang diucapkan oleh Farel dengan penuh senyuman dan keyakinan ketika dirinya memberi kejutan dengan datang di hari kelulusan kekasihnya. Kalimat yang terdapat janji di dalamnya diucapkan dengan mantap tanpa rasa ragu sama sekali.


Setelah satu minggu menginap di rumah Farel, akhirnya Nina pulang ke kotanya. Tetapi bukannya pulang ke rumah, ia malah pulang ke rumah Raya.

Sudah empat hari Nina di rumah Raya, sahabatnya itu tidak masalah kalau dirinya menginap di sana.

“Na, makan ya? lu udah empat hari gak makan.”

“Gua gak laper, Ray. Gua gak ada selera makan.”

“Mau sampai kapan lu gak makan?”

Nina menggeleng, “gak tau.”

“Ayo makan, Na.”

“Gua gak mau, Ray. Farel aja di sana gak makan, masa gua di sini enak-enakan makan sedangkan pacar gua di sana kelaperan.”

“Nina..”

Nina menghela napas, “pantes aja hari ke dua kita ujian, gua mimpi Farel dateng ke acara wisuda gua, di situ gua seneng banget, dia ganteng banget, kata dia 'sesuai janji aku tahun lalu, aku dateng ke wisuda kamu. Aku dateng, cuma kamu gak bisa liat aku.'

paginya gua bingung, apa maksudnya, tapi gua gak ambil pusing toh itu cuma mimpi random karena gua pikir lagi kangen aja sama Farel. Gak taunya..”

Nina tidak melanjutkan perkataannya, ia terlanjur menangis dan dengan sigap Raya membawanya kedalam pelukan hangat.

Raya menepuk-nepuk punggung Nina. “Gua mencoba ngerti apa yang lu rasain. Kadang perpisahan itu hadir di kehidupan kita, seakan dia wajib ada di setiap pertemuan, di setiap hubungan yang kita jalani.

Perpisahan yang sangat berat diterima oleh semua orang, yang membuat kita seperti kehilangan setengah jiwa dari kita. Tapi apa boleh buat, kita diwajibkan untuk menerima perpisahan itu, mau gak mau, Na.”

“Tapi gua belum sempet ngucapin salam perpisahan, dia belum dateng ke wisuda gua, gua belum daftar kuliah bareng sama dia, dia belum nepatin janji dia, Ray.”

“Iya gua tau, Na. Mau gimanapun juga udah terjadi. Butuh waktu buat lu merelakan dia, ikhlas, inget ikhlas bukan berarti lu ngelupain dia. Gua gak ngelarang lu mau nangis atau apapun itu, cuma gua minta lu makan. Gak papa hati dan pikiran lu yang sakit tapi badan lu jangan, Na. Gua gak bisa ngasih kata-kata yang nenangin lu atau semacamnya, tapi gua ada di sini buat lu, nemenin lu. Na.”

“Ray..”

“Udah, kalau mau nangis, nangis aja, nangis sepuasnya. Gua di sini, peluklu.”


Setelah dua minggu di rumah Raya, akhirnya ia pulang ke rumahnya berkat dibujuk sahabatnya itu. Walaupun sudah pulang, tapi ia masih enggan untuk berbicara dengan kedua orangtuanya. Rasa telah dibohongi masih saja ada di dalam dirinya.

Hari berganti hari telah berlalu, hingga tibalah hari yang awalnya Nina tunggu-tunggu, hari dimana kelulusannya tiba. Ia nampak sangat cantik dengan riasan yang menghiasi wajah cantiknya.

Tetapi itu tak menutupi perasaannya yang entah pergi ke mana, pikirannya melayang dan pandangannya kosong. Berulang kali Nina tersenyum palsu ketika berbicara dengan orang ataupun ketika berswa foto bersama teman-temannya.

Pandangan kosong itu seakan mencari seseorang. Dengan penuh harap ia senantiasa melihat ke arah pintu masuk, ia berharap seseorang yang ia tunggu memasuki ruangan itu. Ia menunggu dan terus menunggu sampai akhirnya acara itu selesai.

“Haha, beneran gak keliatan ya kamu.” Si cantik yang tengah menunggu itu tertawa kecil, mengasihani dirinya sendiri yang menunggu seseorang yang tidak mungkin datang.

Dengan berbalut gaun putih panjang hingga menjuntai ke lantai dan dihiasi riasan wajah yang menambah kesan cantik yang dibawakan oleh Mika—sang pengantin. Ia berdiri dengan anggunnya ditemani oleh sang ayah yang mengenakan balutan jas berwarna hitam senada dengan celana.

Jauh di depannya ada seorang lelaki dengan gagahnya berdiri memakai setelan jas berwarna putih dan rambut yang ditata sedemikian rupa, lelaki itu yang tak lain merupakan sang calon mempelai pria, orang yang akan menikah dengan Mika.

Semua tamu yang hadir terlihat sangat terpesona dengan kecantikan Mika, tak terkecuali sang ayah yang dengan penuh senyum memandangi putri semata wayangnya.

Mika menggandeng lengan ayahnya, ia menoleh dan mendapati anggukan kecil dari sang ayah seolah-olah meyakinkan dirinya. Ia melangkahkan kakinya menuju altar pernikahan.

Baru saja satu langkah ia berjalan, secara tiba-tiba ia menghentikan langkahnya kala mendengar seseorang yang mulai memainkan piano.

Alunan melodi yang keluar dari alat musik itu membuat semua orang yang ada di sana terdiam. Mereka semakin terdiam ketika orang yang memainkan piano tersebut mulai menyanyikan sebuah lagu.

Mereka terkejut mendengar suara berat namun merdu yang keluar dari si penyanyi, begitu lembut membawakan sebuah lagu yang sangat menyentuh hati.

Sama seperti yang lain, Mika juga terkejut bahkan sangat terkejut mendengar suara itu. Ia hapal betul suara yang sangat tidak asing baginya.

Dengan terburu-buru ia arahkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Ketika pandangannya sampai di pojok kanan ruangan barulah ia menemukan apa yang ia cari.

Mika mendapati seseorang yang sangat ia kenal tengah bernyanyi dan juga memainkan piano dengan begitu tenang. Orang itu memakai kemeja putih yang digulung lengannya sampai siku dan juga jam tangan yang menambah kesan tampan yang dipancarkan.

Orang itu tak memperhatikan piano sama sekali, ia malah sibuk memandang Mika dari jauh sambil melemparkan senyum kepada sang pengantin.

Jace—penyanyi dan pemain piano yang sangat dikenali oleh Mika. Jace merupakan mantan kekasihnya yang selama 8 tahun terakhir menemaninya. Mika mengakhiri hubungan itu sejak satu bulan yang lalu, lebih tepatnya sehari setelah perjodohan Mika dengan sang calon.

Nenek dari pihak ibunya yang memaksa perjodohan ini dilakukan. Mika sama sekali tidak menerima, karena saat itu ia masih menjadi kekasih Jace dan tidak mau berpisah dengan kekasihnya itu.

Namun sekeras apapun ia menolak perjodohan itu ia tetaplah kalah, karena tidak ada seorang di keluarganya yang berani membantah permintaan dari nenek.

Mika melanjutkan langkahnya ditemani sang ayah yang setia mengiringi setiap langkahnya.

'Cause we were just kids when we fell in love Not knowing what it was I will not give you up this time

Jace menyanyikan lagu yang sangat indah berjudul Perfect yang dinyanyikan oleh Ed Sheeran. Lagu kesukaan Mika dan menjadi lagu kesukaannya juga. Kekasih cantiknya itu selalu minta dinyanyikan lagu tersebut ketika ia tengah memainkan gitar atau ketika mereka sedang bersantai.

Ketika di tengah perjalanan, Mika kembali menghentikan langkahnya. Pandangannya yang semula menatap kosong ke depan berganti menjadi ke arah Jace yang sedang tersenyum.

But darling, just kiss me slow Your heart is all I own And in your eyes, you're holding mine

Air mata Mika turun tanpa diminta, pertahanannya roboh seketika kala mendengar lirik yang paling ia suka di lagu itu. Ia berusaha sekuat mungkin menahan air matanya sejak pertama kali melihat Jace di acara pernikahannya, membawakan lagu kesukaannya dengan senyum teduh khas yang selalu menghiasi bibir itu.

Well, I found a woman, stronger than anyone I know

Sang ayah menoleh ketika menyadari putrinya yang tersenyum namun kedua mata cantik itu tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Hatinya ikut teriris dibuatnya. Ia sangat mengerti perasaan anaknya sekarang, namun sayangnya ia juga tak bisa melakukan apapun.

Tanpa disadari ia juga ikut menitikkan air mata. Ketika menyadari itu ia langsung menghapus air mata dan menarik nafas lalu menepuk-nepuk tangan anak cantiknya untuk segera melanjutkan langkahnya.

Tak lama sampailah Mika di hadapan orang yang sebentar lagi akan sah menjadi suaminya. Senyuman lebar yang semula terukir di bibir calon suaminya itu kini hilang ketika menyadari air mata yang terus mengalir dari pipinya.

Ia beralih menatap Jace saat mendengar suara yang mantan kekasihnya keluarkan terdengar bergetar.

Baby, I'm dancing in the dark With you between my arms Barefoot on the grass Listening to our favorite song When I saw you in that dress, looking so beautiful I don't deserve this

Bisa Mika lihat mata Jace yang awalnya memberikan tatapan teduh kepadanya kini meneteskan air mata ketika menyanyikan bagian itu. I don't deserve this. Ia menggeleng, tak ada yang pantas mendapatkan dirinya selain kekasih hatinya—Jace.

“Now I know I have met an angel in person. And she looks perfect. I don't deserve this.”

Mika kembali menolehkan kepalanya ketika mendengar calon suaminya ikut menyanyikan lirik tersebut, ia juga terkejut ketika calon suaminya itu menekankan kalimat 'I don't deserve this'. Dirinya sangat tahu pasti kalau calon suaminya itu menyadarinya yang berkali-kali menoleh ke arah Jace.

You look perfect tonight

Semuanya bertepuk tangan dengan meriah, mereka sangat kagum dengan penampilan dari Jace. Ada beberapa yang masih terbawa suasana dari lagu itu ada pula yang sampai menangis.

Sementara yang diberi tepuk tangan malah membalikkan badannya membelakangi semua orang, ia berulang kali menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk mengontrol kesedihannya.


Detik demi detik, menit demi menit telah berlalu. Pembacaan janji suci dan sederet prosesi pernikahan telah selesai dilaksanakan, kini Mika sudah sah menjadi istri dari suaminya.

Namun bukan berarti dirinya menerima dengan ikhlas. Ia tetap tersenyum demi menghargai para tamu yang datang. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh lagi.

Mika duduk di salah satu bangku yang ada di sana, pandangannya kosong menatap lurus orang-orang yang berlalu lalang di depannya. Sedangkan suaminya tengah sibuk mengobrol dengan rekan kerja yang hadir.

“Mika..” Panggilan itu berhasil menyadarkan Mika dari lamunannya, ia mendongak menatap orang yang telah memanggilnya.

“Mika, selamat ya untuk pernikahan kamu. Aku harap kamu selalu bahagia. Aku datang ke sini dengan cara memohon-mohon kepada nenekmu agar bisa mendapatkan izinnya.

Susah memang tapi itu aku lakukan untuk memenuhi keinginanmu, dinyanyikan lagu perfect di hari pernikahanmu yang walaupun bukan aku yang menikah denganmu. Akhirnya aku bisa mewujudkan impian kamu, Mika.”

Mika menggeleng ribut. Ia kembali menangis saat mendengar perkataan Jace. Memang impiannya itu Jace menyanyikan lagu Perfect di hari pernikahannya, tetapi bukan ini yang dirinya mau.

Mika hanya mau Jace yang menjadi pengantin pria lalu setelah janji suci diucapkan barulah lagu itu dinyanyikan suaminya yang tak lain Jace itu sendiri.

“Oh iya. Aku tidak akan lama di sini. Aku sudah ditunggu pesawat. Aku belum memberitahu ini padamu. Aku akan pindah ke Swiss dan menetap di sana. Bilang saja aku jahat, aku tidak mengajakmu pergi ke sana padahal itu impian kamu. Maaf tidak bisa mewujudkan keinginan kamu yang itu. Aku pergi dulu ya? Baik-baik di sini.” Jace mengusak rambut Mika pelan.

Mika hanya bisa menatap punggung orang tersayangnya yang berjalan menjauhi dirinya, meninggalkan dirinya sendirian di tengah keramaian acara pernikahannya.

Jika boleh memilih, Mika akan lebih memilih tidak lahir ke dunia ini daripada harus menerima kenyataan bahwa ia menyakiti tiga orang sekaligus, Jace dan suaminya begitupun juga dengan dirinya sendiri.

Bagaimana padi akan tumbuh sampai bisa dipanen jika sang petani saja tidak merawat dan meninggalkan padi tersebut.


Honestly, i dont know where to begin


My Best friend in the world you will always be. You make me laugh like no other can and always know the right words to say. You bring out the best in me and me in you. All the good things that happen in my day I want to share with you. I keep our memories close like treasured gold.

Happiest birthday to my number one, my human diary, my bestest friend there's just so much to say and express that i don't know how to pen it down here. Thank you for being this person that you are, i feel grateful to have crossed paths with you, and grateful to have known you you know me the best, you know my deepest secrets and you make sure to keep them safe with you, you know when i need somebody to cheer me up & you do, you know how to make me smile on my darkest days.

You make my life happier, just by being in it. Thank you for accepting me with all my flaws, and for making me feel good about myself when i feel like shit. I dont know how to do life without you. Here's to all these years, all the smiles, all the tears, what a roller coaster ride it has been!

The only thing that remained the same at the end was this bond that we share. We had our share of ups & downs, well a lot of them; but we never gave up on each other and i know how much i value this friendship, how much i appreciate you for everything that you have done for me!! And not to forget, how proud you make everyone around you!!

Its not just another day, but this one is the best of the year! The birthday of the person I love the most, the great person who has been able to survive, the really good good person, the angel for me, and everything for me. Happy Birthday my sweetheart. Wish you all the happiness in life and the best of everything. I hope all your wishes come true whatever it is.

(Cw // kissing, harsh words)

“Evan kita ngapain sih diem di dalem toilet gini.” Radit baru menyadari kalau ia dan Revan dari tadi sedang berada di toilet.

“Oh iya aku sampe lupa” Revan menepuk dahinya sendiri.

“Ih masih muda udah pelupa, gimana nanti pas udah tua.” Cibir Radit.

“Kan ada kamu yang selalu ngingetin aku.”

“Emang kita bakal selamanya bersama sampe tua?”

“Aku gatau kinci, tapi apapun nanti aku maunya sama kamu”

“Sama yang lain gak mau?” Tanya Radit.

Revan menggeleng, “tentu aja gak mau, aku sayang kamu dan selamanya bakal kaya gitu atau mungkin nanti bakal nambah terus rasa sayang aku ke kamu tiap harinya.”

“Mau terharu tapi tempatnya gak mendukung banget ish, masa romantis-romantisan di toilet sih.” Radit melihat sekeliling mereka dan hanya ada ruang sempit yang berisikan mereka berdua.

“Yaelah terharu dikit kek gitu, udah ngeluarin kata-kata manis itu aku.”

“Ya kalo gak terharu masa harus dipaksa sih ada-ada aja kamu.”


“Aku tuh ngajak kamu ke sini kan mau ngelanjutin yang tadi di depan.”

“Apa?”

Revan mencium sekilas bibir Radit. “Itu.”

Radit menggeleng ribut, “ini masih di sekolah, aku takut ada yang liat Evan.”

“Gak bakal ada yang liat kinci, ini toilet sepi semua orang juga lagi pada istirahat jadi gak mungkin ada yang ke sini.”

“Tapi-”

“Apa? Peraturan? Gak ada peraturan yang nyinggung soal berbuat aneh di toilet, kamu juga cuma bikin peraturan gak boleh ngerokok di toilet.”

“Katanya gak perduli sama peraturan, kok itu tau sih?” Radit berkacak pinggang.

“Cuma itu aja yang aku tau, yang lain males banget buat tau, ribet.”

“Dasar mesum otaknya.”

“Jadi, mau?”

“Kalo aku gak mau nanti kamu marah lagi kaya tadi, aku gamau liat kamu marah kaya tadi, takut.”

“Hey, aku gak bakal paksa kamu, kalo gamau it's okay, mungkin nanti. Jadi jangan dipaksa ya.”

“Nggak. Orang aku juga lagi mau.”

“Mau apa?” Tanya Revan jahil.

“Revan jangan ngeledek ya”

“Aku tanya, mau apa kamu?”

“Mau ciuman sama kamu, ayo ciuman katanya tadi mau kasarin aku ayoo.”

Revan tertawa, “kalo ada yang tau ketos bintne kaya gini gimana ya reaksinya, sekarang ganti bukan ketos galak tapi ketos mesum.”

“Revan ih.” Radit memukul bahu Revan.

Revan memiringkan kepalanya kemudian ia dekatkan wajahnya pada wajah Radit. Ketika bibir mereka hampir bersentuhan Revan menghentikan pergerakannya.

“Jadi boleh nih?” Tanya Revan.

“Alah lama kamu.” Radit langsung menangkup wajah Revan dan langsung mencium bibir kekasihnya itu.

Radit meraup bibir bawah Revan, ia menyesap bibir bawah Revan secara tergesa-gesa.

Revan menjauhkan wajahnya membuat ciuman itu terlepas yang membuat Radit kebingungan, Revan tersenyum.

“Aku sayang kamu kinci.”

“Aku juga sayang kamu Evan.”

Setelah itu Revan menarik tengkuk Radit dan langsung mencium bibir pasangan nya itu. Bibir mereka menempel cukup lama sebelum akhirnya Revan menggerakkan bibirnya untuk mengulum bibir bawah Radit secara lembut.

Revan menyesap bibir atas dan bibir bawah Radit secara bergantian. Tangan Revan semakin menarik tengkuk Radit agar ciuman mereka semakin dalam.

Tangan Revan yang satunya lagi mengusap-usap pinggang Radit, lalu tangannya itu mengeluarkan baju Radit dari dalam celana seragam. Tangan Revan menelusup masuk ke dalam baju Radit, dan mengusap punggung Radit.

Radit merasakan seperti ada sengatan listrik ketika telapak tangan hangat milik Revan mengenai permukaan kulitnya. Ia membalas ciuman Revan dan meremat rambut Revan untuk menyalurkan jutaan kenikmatan yang ia rasakan.

Berbeda dengan Radit yang melakukan gerakan secara tergesa-gesa dan masih amatir, Revan melakukannya secara perlahan dan lembut, Radit akui memang Revan lah ahlinya dalam hal berciuman.

Tung Nung nung Nung

“Panggilan kepada ketua osis ditunggu di ruang OSIS, sekali lagi panggilan kepada ketua osis ditunggu di ruang OSIS”

Pengumuman itu membuat acara berciuman Revan dan juga Radit terpaksa selesai.

“Bangsat banget” Radit mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.

“Kasar ya.”

“Kesel aku tuh, ganggu aja.”

“Bisa dilanjut nanti, udah sana ditungguin tuh.”

“Masih pengen Evan.” Radit mencebikkan bibirnya.

“Udah sana, gak baik buat orang nunggu.”

“Kok kita malah jadi kayak ketuker sih, kamu jadi nurut sama peraturan.”

“Ya gak gitu juga kinci.”

“Panggilan kepada ketua OSIS ditunggu di ruang OSIS, sekali lagi panggilan kepada ketua OSIS ditunggu di ruang OSIS segera secepatnya.”

“Alah bacot banget tai.” Radit bangkit dari duduknya, Revan juga ikut berdiri.

“Aku duluan ya Evan.” Radit hendak membuka pintu toilet tapi tidak jadi, “ada yang ketinggalan.”

Radit mencium bibir Revan sekilas, “sekali lagi deh.” Radit mencium bibir Revan lagi. “Sekali lagi deh.” Lagi, Radit mencium bibir Revan.

Revan terkekeh, ia menarik tengkuk Radit dan mencium bibir Radit selama beberapa detik lalu melepaskan ciumannya.

“Udah sana.”

“Hehe makasih Evan, aku suka.”

“Panggilan kepada ketua OSIS ditunggu di ruang OSIS segera dan secepatnya”

“Bacot banget dah. Aku duluan ya Evan dadah.”

Setelah melambai-lambaikan tangannya, Radit berlari keluar dari toilet. Meninggalkan Revan yang sepertinya masih ingin berada di toilet karena harus menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.

Cuma ngetes

Suasana di toilet sangatlah sepi, hanya ada Revan dan Radit saja, itu karena memang sedang jam istirahat, semua siswa berkumpul di kantin ditambah juga toilet itu jarang dipakai orang karena letaknya cukup jauh; berada di pojok sekolah.

Revan sengaja memilih toilet yang sepi ini karena ia tidak ingin diganggu dan ingin berduaan saja dengan Radit.

Radit masih saja menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap wajah Revan. Revan yang sedang marah itu sangat menakutkan bagi Radit.

Revan yang melihat Radit masih saja menunduk kembali mengeluarkan suara.

“Sampe kapan mau nunduk terus?”

“Kalo ditanya tuh tatap muka yang nanya nya!” Lagi, Revan membentak Radit membuat Radit terkejut tapi tetap menunduk.

“Raditya Anjarika, tatap aku” suara Revan kembali seperti biasa, tidak ada bentakan lagi di dalamnya.

Radit menggeleng.

“Kenapa geleng-geleng?” Tanya Revan.

“Gamau.” Jawab Radit dengan suara pelan.

“Gamau natap aku?” Tanya Revan yang dibalas dengan anggukan dari Radit.

“Sini duduk.” Revan menepuk-nepuk pahanya mengisyaratkan agar Radit duduk di pangkuan nya.

“Gamau kamu galak.” Menggeleng, Radit menjawab dengan suara yang sangat kecil.

“Udah nggak. Sini duduk gak pegel apa dari tadi berdiri terus.” Ucap Revan lembut, ia menarik tangan Radit pelan dan Radit pun menurut.

Radit duduk di pangkuan Revan mengahadap ke arah Revan, dengan posisi seperti itu Radit bisa melihat wajah tampan Revan, tidak ada lagi tatapan tajam yang membuatnya takut melainkan tatapan yang membuatnya teduh, garis rahang yang tadi terlihat jelas kini berganti dengan senyuman manis dari Revan.

“Kenapa masih diem?” Revan mengeluarkan suara membuat Radit tersadar dari lamunannya.

Radit kembali menunduk. Revan masih marah, begitu pikir Radit.

“Ahahahaha” Revan tertawa keras membuat Radit mengernyitkan dahinya bingung.

Radit memberanikan diri untuk mendongak dengan masih mempertahankan wajah bingungnya.

Melihat wajah bingung Radit membuat tawa Revan semakin menjadi-jadi. “Ahahahhahahahahahaha aduh aduh yang sakit perut aku ahahaha kamu ahahaha kamu ahahaha ahahaha”

Wajah bingung Radit berubah menjadi kesal. “Lo gila ya?”

“Gila? Ahahaha nggak, aku gilaa? Ahahaha gak gituu kinci ahahaha.”

“Revan!” Radit menampar pipi Revan pelan membuat Revan menyudahi aksi tertawanya.

“Oke maaf.”

“Kamu kenapa sih? Tadi marah-marah sekarang malah ketawa, kayak orang gila aja.”

“Terus kenapa kamu tadi diem aja?” Revan balik bertanya.

“Ya aku takut lah, kamu bentak-bentak aku kaya gitu, takut banget aku.”

“Tuh kan letak lucunya di situ”

“Gak ada yang lucu ya Revan”

“Lucu kinci, kamu cuma digituin sama aku aja udah ketakutan banget, kemana seorang Radit Anjarika si ketos yang terkenal galak itu?”

“Kamu nyeremin tau gak Revan, gimana aku gak takut.”

“Lho? Biasanya juga kamu suka marah-marah sama orang, malah lebih dari aku tadi ngebentaknya.”

“Udah ah kamu tadi beda banget tau, nyeremin, udah ya marah nya aku takut.” Radit menenggelamkan wajahnya pada perpotongan leher Revan.

Revan terkekeh, “iya sayang, tau gak, aku tuh tadi cuma ngetes kamu aja, kamu yang suka marah-marah terus dimarahin tuh gimana gitu. Maaf yaa tadi udah bentak-bentak kamu.” Revan mengelus punggung Radit.

Radit kembali menegakkan tubuhnya, “tapi tadi kayak marah beneran tau gak”

“Iya maafin aku, tadi aku nyakitin hati kamu?” Sebelah tangan Revan menangkup wajah Radit.

“Nggak, aku cuma takut aja. Aku baru tau kalo kamu marah se serem itu.”

“Maaf yaa, maaf banget. Aku ngerasa bersalah udah bikin kamu takut, sampe keringetan gini kamu.” Revan mengusap keringat yang ada di dahi Radit lalu mencium dahi itu sebentar.

“Jangan marah lagi ya”

“Aku emang gak marah sayang, gak bakal deh aku marahin kamu kaya gitu lagi.”

Radit masuk ke dalam toilet cowok dan menutup pintunya kembali. Dilihat ada Revan yang tengah menatapnya dari cermin, wajah Revan basah karena tadi ia mencuci wajahnya.

“Sepi?” Tanya Radit menggunakan gerakan bibir.

“Iyaa” jawab Revan dengan suara yang menggema. “Sini.”

Radit menuruti perintah Revan untuk mendekat.

“Mau apa?” Tanya Radit galak.

“Kinci marah-marah mulu, heran deh”

“Apasih kinci-kinci, nama gue Radit. Raditya Anjarika.” Radit melipat kedua tangannya di depan dada.

“Aku. Bukan gue.”

“Gapapa lagi marah ini tuh ih.” Tanpa sadar Radit mencebikkan bibirnya.

“Malah gemesin tau gak.” Revan mengelus rambut Radit.

“Gue-”

“Akuu.” Potong Revan.

“Iya aku, aku tuh udah berapa kali ngasih tau kamu kalo di lingkungan sekolah pake seragam yang rapi, dikancingin dimasukin, ngeyel banget sih.”

“Bawel banget kamu kinci. Yaudah sini masukin.”

“Hah? Apanya yang dimasukin?” Tanya Radit terkejut.

“Otaknya ya, ya baju aku lah, masukin cepet”

“Punya tangan kan? Pake tangannya masa dianggurin.”

“Gak mau? Yaudah.”

Ketika Revan ingin melangkahkan kakinya, tangan Radit bergerak mencegahnya.

“Iya sini aku masukin baju kamu, tapi kancingin dulu ya.”

“Iya kinci.” Revan mengacak-acak rambut Radit gemas.

Setelah selesai mengancingkan baju seragam Revan, Radit juga memasukkan baju Revan ke dalam celananya agar terlihat rapi.

Ketika Radit menunduk, Revan mengambil kesempatan untuk mengecup pucuk kepala Radit.

“Evan diem ya.” Radit mendongak menatap wajah Revan.

Revan mengecup bibir Radit sekilas membuat si empu bibir melotot.

“Bangsat” Radit mendorong pelan bahu Revan. “Ini di sekolah Van.”

“Aku perduli gitu?”

Revan menarik pinggang Radit untuk mendekat, menjadikan tubuh mereka berdua menjadi sangat dekat.

Tangan Revan yang sebelah lagi mengangkat dagu Radit, “mulutnya kasar banget, mau dikasarin huh?”

“Revan apasih lepas gak!” Tangan Radit memukul tangan Revan yang tengah memegang dagunya.

Bukannya melepaskan tangannya yang ada di dagu Radit, Revan malah mendekatkan wajahnya pada wajah Radit.

Ketika Revan sudah memiringkan kepalanya, Radit menggeleng, “jangan di sini, nanti ada yang masuk”

“Ck. Takut ada yang liat?” Tanya Revan kesal.

“Ya iyalah, aku gamau image aku sebagai ketos jadi rusak cuma gara-gara ini.” Radit juga ikut kesal.

Tanpa berkata apapun Revan langsung menarik Radit untuk masuk ke dalam bilik toilet, setelah mereka masuk Revan mengunci pintunya.

Revan mendudukkan dirinya di kloset duduk lalu mendongak menatap Radit dengan tatapan tajam.

“Ngapain diem di situ?” Revan bertanya dengan nada dingin. Membuat Radit diam tidak berkutik dan memilih untuk menunduk.

“Ngapain nunduk? Siapa yang nyuruh nunduk?”

“Kenapa diem? Punya mulut gak?” Radit terkesiap ketika mendengar bentakan dari Revan.

“Jawab!” Bentakan Revan membuat Radit takut dan meremat celananya.

“Udah abiss, nih minumnya.” Bundanya menyodorkan segelas air putih kepadanya, yang langsung ia minum.

Rana mengusap tetesan air yang ada pada dagunya menggunakan punggung tangan.

“Makasih ya bunda sayang.” Rana mengusap lembut tangan bundanya.

“Iya sama-sama Rana sayang. Udah sana mandi, bunda gak betah liat kamu kaya gembel gini.”

“Ih bunda kok gitu sih? Anak sendiri dikatain gembel, terus bunda apa? emaknya gembel gitu?”

“Eh sorry bunda mah gak mandi juga tetep cantik.”

“Rana juga kalo misalnya mandi tetep aja gak cantik, kan Rana ganteng.”

“Tapi ada yang suka bilang kamu itu cantik dan bunda juga setuju sih sama dia.”

“Siapa bun?”

“Reno.”

“Reno sialan.” Rana berdecak kesal.

“Heh mulutnya.”

“Hehe maaf bun.”

“Udah sana mandi.” Bundanya mendorongnya pelan.

Sampai kamar Rana tidak langsung mandi, ia lanjut memainkan ponselnya. Ia mengabari Reno untuk tidak perlu pulang dari rumah Marka.

Reno memang dari pagi sudah ada di rumahnya Marka, katanya ada acara di sana.